TARATIK

 

Taratik

dek : Ir. Gamal Yusaf, Sutan Batuah

 

Rarak Kalikih dek Bindalu

Tumbuah sarumpun di tapi tabek

Kok habih raso jo malu

Bak kayu lungga pangabek

 

Anak urang Koto Ilalang

Nak lalu ka Pakan Baso

Malu jo Sopan jikok lah hilang

Abih lah raso jo Pareso

 

Jikok pai kaparelatan,(baralek)

Duduak tagak ado jangkonyo

Baso jo basi usahlah lupo,

Nan tuo dipamuliakan,

Nan ketek dikasihi,

Samo gadang dipabasokan

 

TARATIK dalam Pergaulan :

  • Jalan nan Ampek :

Jalan mandaki, Jalan Manurun, Jalan Mandata, Jalan Malereang

  • Kato nan Ampek :

Kato Pusako, Kato Mufakat,

Kato Dahulu, Kato Kudian kato bacari

  • Pancaran Budi :

Raso, Pareso, Malu jo Sopan

 

Taratik berasal dari katata tertib, teratur, sesuai urutan dari ketek kanan gadang, dari randah ka nan tinggi, meletakkan sesuatu pada tempatnya’the rihgt men on tright place‘ dan seterusnya.

 

Taratik adalah cerminan dari manusia yang berakhlak, berakal budi nan mulia. Menghormati orang tua, mengasihi yang kecil (lebih muda), menghargai sama besar. (nan tuo dimoliekan, nan ketek dikasiehi, samo gadang lawan baiyo, baiyo batido jo kakak, ba iyo iyo jo adiek). Dalam tutuntunan agama, Taratik sangatlah diutamakan, seperti dalam mendirikan Sholat lima kali sehari semalam haruslah sesuai urutan dari awal hingga akhir, tidak syah Sholat seseorang bila melakukan secara acak-acakan tidak sesuai dengan urutan, aturan dan tata tertib serta waktu-waktu yang sudah ditetapkan seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Lazim disebut sebagai salah satu rukun Shalat.

 

Tengganglah raso pakai pareso, Gunakan Etika, pakailah logika demikianlah ungkapan yang sudah terpatri dalam budaya manusia beradab di Minangkabau, tapi terasa ada sesuatu yang hilang ketika manusia tersebut lupa dengan Adat, tiada hidup yang lebih malang ketika dikatan orang ‘ndak tau jo ampek’, orang yang tidak beradat.

Dalam pergaulan sehari-hari masyarakat di Minangkabau khususnya, bila sudah dikatakan orang ‘ndak tau di nan ampek, sungguh malu yang tak terhingga bagi yang menerima julukan tersebut, adalah suatu upaya masyarakat untuk menghukum secara moral (Psycotheraphy) kepada anggotanya yang melanggar adat atau aturan yang berlaku dalam kehidupan, ‘salah cando’. Orang tersebut mempunyai strata paling bawah dalam masarakat itu sendiri. Diumpamakan,  lah samo jo nan bakaki ampek. Sehingga diharapkan mereka akan sadar dengan segala prilakunya dalam pergaulan masyarakat yang beradat, bermoral dan berakhlaqul karimah. Berdasarkan Adat Basandi Syara’-Syara’ Basandikan Kitabullah.(ABS-SBK).

 

Namun dalam era globalisasi sekarang sudah banyak yang kebablasan, sehingga segala norma, etika, adat dan Taratik itu semua ditabrak, sampai – sampai hukuman moral (psycotheraphy) yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau selama ini tidak diabaikan lagi oleh sebagian masyarakat itu sendiri.

 

Contoh-contoh Taratik yang dilanggar dalam masyarakat moderen saat ini adalah dalam pergaulan muda – mudi. Tidak merasa sungkan dan malu berpelukan, berjalan di keramaian seperti Mall dan Pasar Swalayan yang hampir hadir disetiap sudut kota, berpakaian yang seronok, membuka aurat alias setengah telanjang, mengikuti mode dan gaya hidup “selebritis, membuka ‘aib pribadi dan keluarga demi popularitas sesa’at. Dengan rasa bangga dan tanpa rasa malu mengumbarnya dalam konferensi pers agar masuk dalam ratting tertinggi dalam berita infotainment di setiap stasiun televisi.

Sehingga tidak mencerminkan sebagai manusia yang berbudaya, dan beragama, tambah lagi masuknya PEKAT (PEnyakit masyaraKAT), mulai dari pergaulan bebas, Narkoba, Judi, tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual terhadap kaum ibu dan anak perempuan semakin tak terbendung. Didukung pula dengan tayangan di Televisi, dari sinetron, film, berita Politik sampai Selebritis, berita kriminal, perampokan, pemerkosaan, maka lengkaplah bahan untuk merobah budaya, sementara peranan Agama dan Adat budaya terlupakan. Dekadensi moral semakin marak melanda segala lapisan masyarakat, mulai dari pejabat sampai masyarakat bawah, perselingkuhan menjadi mode, kawin siri (Nikah tanpa legalitas dari pemerintah / administrasi), menjadi liputan utama infotainment, bahkan sampai ke DPR disibukkan pula untuk meluncurkan produk hukum semacam Undang-undang tentang Nikah Siri.

Pembajakan hasil karya ilmiah, seni, tulisan, lagu, dan lain-lain demi keuntungan diri sendiri dan kelompok. Mengkui dan mengclaim karya seseorang/kelompok sebagai karya sendiri atau kelompok, disebut karya plagiat, sabotase, dan Si Kutar (Kurang Taratik) manembak ateh kudo, orang lain bersusah payah menciptakan, eh,… Si Kutar dengan enteng mengatakan itu semua adalah hasil jerih payahnya, karena dia mengaku yang dapat legalitas dari koloninya, dengan seribu alasan, yang penting nama Si Kutar inilah yang akan muncul kepermukaan, walaupun masyarakat menyaksikan dan bacamin patang pagi, siapa sebenarnya Si Kutar ini. Lebih ironisnya sampai diajukan ke pengadilan untuk pembenaran perbuatan mereka. Demikian parahnya kondisi moral Taratik, akhlak dan etika masyarakat dewasa ini.

Hilangnya rasa malu dalam generasai sekarang tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada mereka, banyak faktor yang membuat mereka berlaku demikian, terutama faktor keluarga dan orang tua yang kurang memperhatikan norma – norma yang berlaku dalam pergaulan mereka, faktor informasi global yang masuk tanpa filter kedalam rumah kita, kehilangan Panutan dan Tauladan bagi mereka seperti, tidak ada rasa takut kepada Guru di sekolah, bahkan ungkapan Guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari seakan sudah menjadi makanan sehari-hari dalam berita harian di media elktronik dan cetak sa’at ini. Yang  tak kalah pentingnya adalah Pendidikan Agama yang sudah sangat minim baik dalam keluarga maupun di sekolah formal, sehingga Akhlaq (Taratik) sudah tidak ada dalam jiwa generasi sekarang. Demikian yang digambarkan oleh budayawan kita Alm. A.A. Navis dengan novelnya yang berjudul “Robohnya Surau Kami”.

Guru melecehkan anak mjuridnya sendiri, memperkosa, dan bahkan membunuh, seperti yang dapat kita saksikan di berita-berita kriminal di TV, Koran dan Internet saat ini. Bagaimana mungkin moral anak bangsa ini menjadi baik kalau kwalitas guru yang sangat bobrok tidak Bataratik, bak kata pepatah Minang ‘ tungkek mamabaok rabah’ seyogyanya tongkat ini berfungsi sebagai penopang berdirinya, tapi kenyataannya terbalik.

Seiring dengan itu Perda Provinsi Sumatera Barat No. 9 tahun 2000 serta Perda Kabupten Solok No. 4 tahun 2001 tangagl 9 Februari 2001 untuk Baliek ka Nagari sangat mengena dan sangat tepat untuk mengembalikan jati diri masyarakat Minangkabau yang terkenal dengan keramah tamahannya dan taat kepada Agama yang mereka anut yaitu Islam, yang berakhlak mulia, budi pekerti, dan Bataratik. Baliek ka Nagaribukan hanya berarti membenahi struktur administrasi pemerintahan saja, lebih jauh adalah mengembalikan Minangkabau ke akarnya,  yaitu hidup beradat berdasarkan agama (ABS-SBK) ‘pinang pulang katampuaknyo, siriah pulang ka gagangnyo’, dalam aplikasi di masyarakat adalah baliek ka Nagari berarti baliek ka Surau, Surau tempat penempaan jiwa-raga budaya dan agama bagi putra-putra minang di zaman dahulu, yang menghasilkan SDM yang tahan terhadap gelombang budaya asing, menjadi leader pada bidang Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya dimana mereka berada.

Sebut saja mulai dari pejuang dan politikus, budayawan di nusantara, H. Agus Salim,     H. Rangkayo Rasuna Said, Buya Hamka, Bung Hatta, St, Syahrir, Moh. Yamin, Tan Malaka, Moh. Natsir, HB. Jassin, St. Takdir Ali Syahbana, A.A Navis, Taufik Isma’il dan lain-lain. pada dasarnya mereka adalah alumni Surau semasa remaja di kampung masing-masing. dalam bidang Ekonomi dan pengusaha yang berhasil di Jakarta pada tahun 60-an banyak yang berasal dari Ranah Minang. dan bahkan Politikus, Ulama, dan budayawan dari luar Minangkabau banyak berguru di Surau tersebut.

Sekarang bagaimana ?, bukan saja krisis Moral dan Ekonomi bahkan krisis SDM yang berkulitas seperti pendahulu kita melanda Minangkabau khususnya, Indonesia umumnya.

Bahkan kalau ada, merasa malu mengaku orang Minangkabau, entah alergi apa namanya sampai malu mengakui negeri asalnya. Kenapa ? menurut analisa sementara mereka malu karena sebelumnya mereka melakukan hal yang tabu di Adat dan Limbago Minangkabau, tidak bercorak seperti orang Minangkabau, keluar dari pakemnya. Maka mereka malu dan tidak mau Adat Limbago Minangkabau yang berbudaya tinggi tercemar karena polah tingkahnya tersebut, atau berkaitan dengan unsur politik yang sedang mereka lakoni, sehingga kalau mengaku sebagai orang yang beradat hati nuraninya tidak menerima, makanya selalu menghindar dan menutupi dengan topeng kepalsuan. Hal seperti ini adalah usaha untuk tidak mencemarkan nama baik keluarga di kampung halaman dan suku etnis mereka.

Sudah banyak bukti kita lihat yang pernah mengikuti tradisi ‘kasurau’ semasa remajanya di gembleng dengan didikkan ‘surau’ tersebut seperti pendidikan Agama, Adat Budaya, Berkehidupan Ekonomi, kemandirian, Olah raga Pencak Silat sampai ilmu kebatinanan yang bertujuan sebagai pagar diri, membuat mereka matang dan bijaksana baik dalam pola pikir dan tindakan. Bila mereka pergi merantau tidak merasa canggung dan ragu hidup jauh dari sanak family, karena bekal di ‘surau’ itulah menjadikan laki-laki minang ‘dahulu’ selalu berdiri di depan, sebagai motor penggerak sebuah kelompok masyarakat, sehingga orang-orang lain akan menerima mereka dengan senang hati karena Taratik budi pekerti yang mereka bawakan sangat santun. Dalam sebuah pantun dan ungkapan menyebutkan karatau madang dihulu, babuah babungo balun, karantau bujang dahulu, dikampuang paguno balun. Bila seorang bujang merantau dengan bekal  Taratik, Sopan, Santun, setelah mapan akan selalu mengingat dan kembali ke kampung halamannya yang selama merantau ditinggalkan, tercermin dalam ungkapan pepatah :

 

Sayang jo anak dilacuti,

Sayang jo kampuang tingga-tinggakan

 

Hujan ameh di nagari urang,

hujan batu di nagari kito, namun kampuang takana juo.

 

Satinggi-tinggi tabang bangau, balieknyo kakubangan juo,

sajauah-jauah marantau, pulangnyo kakampuang juo.

 

Kaluak paku kacang balimbiang, tampuruang lenggang-lenggankan

baok lalu ka saruaso, tanamlah sirieh jo ureknyo.

Anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan

tenggang nagari jan binaso, jago sarato jo adaiknyo.

 

*****2010

 

Klender, Juni 2007 update 24 Februari 2010

Pernah dimuat di Majalah TITIAN No.31/ Okt-Nov 2007

 

Sumber bacaan :

  • Kato Pusako, AB. Dt. Majo Indo
  • Nagari dalam Prespektif Sejarah, Drs. Efi Yandri, M.Si
  • Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, H. Idrus Hakimi, Dt. Rajo Pangulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s