SYEKH MAULANA SOFI DENGAN MASJID KURANG ASO ANAM PULUAH di Alam Surambi Sungai Pagu.

 SYEKH MAULANA SOFI

DENGAN MASJID KURANG ASO ANAM PULUAH

di Alam Surambi Sungai Pagu.

Oleh : GAMAL YUSAF, St. Batuah

Pada masa lalu, di daerah Solok Selatan terdapat sebuah Kerajaan penting. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu namanya. Hingga saat ini masih banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang masih terpelihara dengan baik, bahkan salah satu dari peninggalan tersebut ada sebuah Mesjid Tua diperkirakan didirikan sekitar 400 tahun yang lalu (± 4 abad), masih berdiri dengan kokoh sampai saat ini di Pasir Talang Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat. Bahkan Dinas Purbakala telah memasukan kedalam Lindungan Cagar Budaya Indonesia, Dalam proses Renovasi / rekonstruksi mengganti material yang sudah tidak layak pakai oleh Dinas Kepurbakalaan,

Masjid tersebut terbuat dari kayu dan biasa disebut dengan Mesjid Kurang Aso Anam Puluah, Kurang Aso Anam Puluah adalah jumlah nenek moyang orang Alam Surambi Sungai Pagu yaitu 60 – 1 yang turun dari Kerajaan Pagaruyuang, dan sampai saat ini 60-1 atau 59 adalah jumlah Penghulu Pucuk Adat yang ada di Alam Surambi Sungai Pagu, mereka inilah bersama alim ulama mendirikan bangunan masjid ini sehingga Bangunan Masjid tersebut mengandung falsafah dan lambang dari Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Tiang penyangga Masjid ini jumlahnya 59 buah.

Syekh Maulan Sofi adalah seorang ulama / guru yang memiliki kesaktian, Konon ketika beliau baru dilahirkan sudah ada pertanda kesaktiannya yaitu saat beliau baru lahir dan ditaruh di lantai papan rumahnya saat itu pula petir menggelegar, lantai tersebut patah seakan tak kuat menahan berat tubuh bayi tersebut.

Sang bayi lahir dalam keadaan terbunggkus selaput tipis. Ketika Dukun yang membantu kelahiran bayi tersebut mencoba membuka selubung tersebut dengan pisau, ternyata pisau itu tak mempan membelah selubung. Hanya dengan sebilah sembilu akhirnya selubung tersebut dapat dibuka.

Lain lagi cerita tentang beliau berangkat ke Makkah memadamkan api saat terjadi kebakaran di tanah suci tersebut. Kejadiannya sangat cepat dan unik.

Waktu itu hari Jum’at, dan merupakan salah satu sunah Rasullullah untuk bercukur dan merapihkan rambut sebelum waktu Sholat Jum’at datang, seperti merapikan rambut, jenggot, kuku, kumis dan membersihkan diri serta berwangi-wangi seperti dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Syekh datang ke tukang cukur langganan beliau di sekitar Masjid kecil, dan bertepatan pula didekat Mesjid itu ada pasar yang ada hanya di setiap hari Jum’at maka disebut pula dengan Balai Jum’at di Pasir Talang. Beliau duduk pada bangku kayu yang disediakan. Tukang cukur mempersiapkan peralatan cukur untuk memulai pekerjaannya.

Dengan hati-hati tukang cukur memulai pekerjaanya merapihkan rambut seorang syekh yang terkenal di Alam Surambi Sungai Pagu, Syekh Maulana duduk dengan tenang. Matanya terlelap. Selagi tukang cukur asyik bekerja, tiba-tiba saja Syekh Maulana kaget dan terbangun dari duduknya, tukang cukurpun tak kalah terkejutnya, entah apa yang terjadi. Apa dia melakukan kesalahan sehingga Sekh Maulana berdiri dari duduknya dengan tiba-tiba.

“Tunggu sebentar,” kata Syekh Maulana, saya ada keperluan penting !, Nanti saja kita lanjutkan mencukurnya.

Tukang cukur bengong. Padahal baru separoh rambut syekh terpotong dan sebelah lagi masih terurai.

Ulama itu dengan cepat berdiri dari bangku. Beliau berjalan dengan tergesa-gesa. Tukang cukur hanya termangu dan tak mampu berbuat apa-apa. Begitu tergesanya hingga beliau lupa memakai keifiyah (sorban) atau kupiah kata orang di kampung itu. Terlihat dengan jelas bahwa baru rambut sebelah kanan yang sudah dipotong sedangkan yang sebelah kiri masih panjang seperti sediakala. Dengan cukuran rambut sebelah itulah Syekh Maulana meninggalkan tukang cukur. Tak lama kemudian Syekh Maulana menghilang dari penglihatan tukang cukur yang terpana melihat kejadian yang baru dia alami bersama Guru Besar Syekh Maulana Sofi.

Dua jam kemudian, barulah Syekh Maulana kembali dan duduk pada bangku yang sama untuk melanjut cukurannya yang terbengkalai. Wajah beliau kini terlihat tenang dan bersih. Tukang cukur sulit untuk memendam rasa heran dalam hatinya sambil memulai kembali pekerjaannya mencukur rambut Syekh Maulana yang bagian kiri.

“Kelihatannya tadi Angku Syekh tergesa-gesa sekali,” kata tukang cukur memulai pembicaraannya untuk mencari tau apa sebenarnya yang terjadi pada diri beliau. Ada keperluan apa Angku?, Kenapa tiba-tiba saja Angku pergi, sedangkan belum selesai dicukur?, pertanyaan tukang cukur menghujani Syekh Maulana untuk mendapat jawaban yang pasti. Tukang cukur sangat yakin Syekh Maulana tidak akan bercerita bohong tentang apa yang terjadi pada diri beliau.

“Selagi terlelap tadi, saya melihat ada kebakaran dekat Masjidil Haram di Makkah. Itu sebabnya saya pergi dengan segera.” Jawab Syekh Maulana. Dengan tenang Syekh Maulana memulai menceritakan pengalaman beliau yang singkat dan diluar kemampuan manusia biasa untuk melaksanakan yang baru beliau lakukan tersebut.

“Jadi …. Sebentar tadi Angku pergi ke Mekkah ?” tanya tukang cukur makin heran.

“Ya.  Berusaha membantu memadamkan api tersebut. Agar jangan sampai Masjidil Haram ikut terbakar.”

Mendengar jawaban tersebut, tukang cukur hanya terdiam. Bagaimana mungkin dalam waktu dua jam beliau pulang pergi ke Mekkah untuk membantu memadamkan api yang sedang menyala mengancam terbakarnya Masjidil Haram. Padahal jarak antara Alam Surambi Sungai Pagu dengan Masjidil Haram ribuan kilometer. Apa mungkin Syekh Maulana menempuh jarak itu dalam waktu singkat ?. “Ah, Sekh ini hanya bercanda” kata tukang cukur dalam hatinya.

Akhirnya tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya. Setelah membayar upah cukur rambut, Syekh Maulana pulang untuk mempersiapkan sesuatunya berangkat ke Mesjid menunaikan Sholat Jum’at.

Sepeninggal Syekh Maulana, tukang cukur menceritakan hal  yang dia alami tadi kepada seorang pelanggan yang bercukur setelah Syekh Maulana. Pelanggan itu hanya tertawa mendengar hal itu.

“Mana mungkin orang bolak – balik ke Mekkah dalam waktu dua jam, Itu pastilah cerita dan angan-angan orang tua itu saja. Pak Usu.” Komentar pelanggan tersebut.

“Tapi . Sutan …. Syekh Maulana bercerita sungguh – sungguh. Bahkan beliau menceritakan bagaimana situasi kebakaran di Kota Mekkah pada saat beliau sampai disana.” Bela tukang cukur. “Beliau tak mungkin berbohong” lanjutnya menegaskan.

“Beliau memang seorang ulama, tetapi kalau ceritanya seperti itu jelas itu cerita bohong, tidak masuk akal !” Bantah pelanggannya meyakinkan tukang cukur. “Ah,… Sudahlah cukur dulu rambut ku ini sudah hampir datang waktunya Sholat Jum’at !” seru pelangan kepada tukang cukur. “Tak usah Pak Usu pikirkan hal yang tidak masuk akal itu.” Sembari membetulkan posisi duduknya di bangku kayu bekas Syekh Maulana tadi pagi.

Tukang Cukur memilih diam, tak mau berdebat dengan pelanggannya.

“Ha…, begini saja,” Kata Sutan tadi memulai selidiknya. “Pada musim haji ini kan ada orang Nagari kita yang ikut Menunaikan Ibadah Haji ke Mekkah, dua bulan lagi rombongan tersebut akan sampai di sini. Kita Tanya saja mereka apakah benar ada kebakaran di dekat Masjidil Haram.”

“A… iya, itu usul yang bagus Sutan.” Balas tukang cukur. Sambil bekerja mencukur rambut pelanggan yang dia panggil Sutan tadi.

“Dari jawaban mereka kita akan tahu, apakah Syekh Maulana bohong atau tidak.” Lanjut Sutan dengan yakin.

Pada saat itu memang bertepatan dengan musim Haji, bulan Dzulhijjah. Ummat Islam menunaikan Ibadah Haji bagi yang mempunyai kemampuan baik jasmani, rohani dan finansial yang berkecukupan. Pada waktu itu kota Mekkah lagi sangat ramai dikunjungi jamaah dari segala penjuru dunia untuk memenuhi panggilan Nabi Allah Ibrahim.

Dengan cepat cerita Syekh Maulana pergi ke Mekkah memadamkan kebakaran di dekat Masjidil Haram menyebar dari mulut ke mulut dalam masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu, berbagai tanggapan masyarakat tantang cerita itu. Ada yang percaya dan yakin Syekh Maulana tidak berbohong karena beliau seorang Ulama yang suci yang mempunyai karomah. Dengan kehendak Allah semua dapat saja terjadi. Ada pula yang tidak yakin dan tidak percaya. Dengan bercerita seperti itu maka masyarakat akan mengagumi Syekh Maulana atas kehebatannya. Demikian pro-kontra yang terjadi dalam masyarakat. Mereka sama – sama menunggu rombongan Haji pulang dari Mekkah dan menanyakan hal tersebut untuk memastikan cerita Syekh Maulana tersebut, apakah Syekh Maulana bohong atau tidak.

Beberapa hari setelah rombongan tersebut sampai, masyarakat bergerombolan datang ke rumah salah seorang Datuk yang juga ikut bersama rombongan tersebut bergelar Datuak Kayo. Setelah bercerita dan basa-basi sejenak. Salah seorang dari masyarakat memulai menanyakan pengalaman-pengalaman beliau dalam perjalanan ke Mekkah yang baru lalu.  Dan ada pula yang menayakan kesehatan dan keamanan dalam perjalanan. Tiba-tiba berbicara seorang dari mereka dengan lantang bertanya kepada Angku Dt. Kayo.Dua bulan kemudian rombongan haji yang ditunggu-tunggu sampai di kampung. Mereka menyambut dengan meriah. Masyarakat bersyukur atas keselamatan keluarga mereka dalam perjalanan pergi dan pulang dari Mekkah untuk menunaikan Ibadah Haji sebagai Rukun Islam yang ke lima.

“Angku Datuak, apa pengalaman yang paling berkesan dalam perjalanan Angku saat menunaikan Ibadah Haji ini ? kata si Sutan memancing untuk memulai pertanyaannya.

“Pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika saya menyaksikan kebakaran di dekat Masjidil Haram.” Kata Angku Dt. Kayo. “Kebakaran sangat hebat, sehingga kain penutup Ka’bah yang disebut Kiswah itu ikut pula terbakar. Orang banyak menjadi panik dan berlarian kesana – sini tak tentu arah merusaha mencari air untuk menanggulangi kebakaran tersebut. Untunglah dalam keadaan seperti itu datang seorang tua bersorban.  Orang tua itu datang sambil membuka kain sorban dikepalanya lalu mengibas-ngibaskan kain sorban tersebut kea rah nyala api tersebut. Tak lama kemudian api tersebut padam. Dengan menyungkupkan sorbannya itu ke Ka’bah, dengan tertutupnya Ka’bah dengan sorban tersebut maka api tiba-tiba padam.”

“Apakah angku memperhatikan orang yang memadamkan api tersebut?” Tanya si Sutan, tambah penasaran.

“Ya. Saya merasa pernah mengenal orang tua itu, beliau datang dengan pakaian biasa, tidak berpakaian Ihram layaknya orang sedang berhaji. Ketiaka dia membuka sorban di kepalanya, saya melihat rambut di kepalanya sebelah kanan pendek, seperti baru saja dicukur, sedanngkan yang sebelah lagi masih utuh.” Jawab Angku Dt. Kayo.

Mendengar cerita Angku Datuak Kayo tadi, barulah si Sutan dan kawan-kawan tadi percaya dan yakin apa yang dialami oleh Angku Syekh Maulana Sofi. “Beliau memang orang yang sakti,” komentar mereka sambil pulang ke rumah masing-masing dengan membawa sedikit buah kurma dan segelas air zam-zam pertanda orang baru pulang dari Naik Haji.

Padahal Angku Dt. Kayo baru saja sampai di Kampungnya dan tidak tahu menahu tentang gosip yang terjadi pada Syekh Maulana akhir-akhir ini.

Semenjak itu Masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu semakin meyakini ajaran Islam yang disyi’arkan oleh Angku Syekh Maulana Sofi. Mayarakat semakin banyak mengikuti daa’wah yang diajarkan oleh ulama terpandang itu. Pengikut Angku Syekh Maulana Sofi dengan cepat menyebar kesegala pelosok Nagari bahkan sampai ke Rantau Banda nan Sapuluah di daerah Pesisir pantai barat Sumatera yang kini disebut Kabupaten Pesisir Selatan. Seiring dengan makin berkembangnya pengikut Angku Syekh Maulana Sofi, maka mereka merasakan membutuhkan tempat berkumpul yang lebih besar.

Dalam suatu pertemuan dengan Ninik Mamak pemangku Adat di Alam Surambi Sungai Pagu, beliau mengusulkan untuk mendirikan sebuah Masjid.

“Jama’ah kita sudah membutuhkan yang namanya Masjid untuk lebih khusuk beribadah kepada Allah SWT. Disamping itu juga digunakan untuk musyawarah dan belajar bagi anak kemanakan kita.” Kata Angku Syekh Maulana Sofi kepada pemuka masyarkat yang hadir pada waktu itu.

Dengan serempak masyarakat pada waktu itu menyetujui usulan beliau, masyarakat juga sepakat bahwa pendirian Masjid tersebut sebagai penghormatan kepada nenek moyang orang ALam Surambi Sungai Pagu, maka nama masjid itu disepakati dengan Nama Kurang Aso Anam Puluah jaitu jumlah nenek moyang mereka yang turun dari Pagaruyung sejumlah 60 orang dan meninggal satu orang dalam perjalanan menuju Lakuak Banda Lakun, sebelum bernama Alam Surambi Sungai Pagu. Sampai saat ini jumlah penghulu pucuk pemangku adat di Alam Surambi Sungai Pagu berjumlah 59 orang.

Selesai musyawarah, disusunlah rencana persiapan untuk pengerjaan masjid tersebut. Secara bergotong royong masyarakat mengumpulkan bahan bahan yang diperlukan untuk bangunan Masjid tersebut.Dengan mengeluarkan Titahnya, Daulat Yang  Dipertuan Tuanku Rajo Disambah, Raja Alam Surambi Sungai Pagu pada saat itu, menitahkan anak kemenakannya untuk bergotong royong mendirikan Masjid yang megah di Kampuang Dalam, sekitar areal Isatana Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, yang dikelilingi oleh rumah-rumah gadang para pertugas Istana. Bangunan Masjid ini berdekatan dengan Balai-balai Adat di Kampuang Dalam (Pasir Talang).

Pertama-tama mereka mencari kayu yang dibutuhkan untuk Tonggak-tonggak masjid, yang dibutuhkan 59 batang tonggak yang menggambarkan jumlah nenek moyang mereka. Kemudian kayu-kayu lainnya seperti Jariau, kasau, Papan untuk dinding dan lantai, jendela, pintu dan lain-lainnya. Demikianlah dengan cara bergotong royong mulailah disusun sandi tempat berdirinya tonggak-tonggak tersebut, pertama didirikan tonggak-tonggak keliling di bagian luar, kemudian tonggak-tonggak keliling bagian dalam, didirikan secara bersama-sama, bergotong royong. Namun untuk tonggak yang di tengah tidak ada yang sanggup utuk mendirikannya, yang panjangnya mencapai ± 13 meter. Konon sebagian menceritakan tonggak yang satu ini agak istimewa keberadaanya. Yang mereka sebut dengan tonggak macu ini bersal dari tongkat Syekh Maulana Sofi. Beliau melihatkan kesaktiannya lagi. Setelah semua material kayu untuk pembangunan sudah berada dilokasi,. Tonggak Macu tersebut belum ada, sedangkan kayu tidak ada yang sepanjang itu. Maka dengan mengusap-usap tongkat beliau, makin lama tongkat tersebut makin besar dan panjang hingga tiang tersebut dipakai untuk Tonggak Macu mesjid tersebut. Tidak ada sambungan dari sandi batu sampai ke ujung.

Khusus dalam mendirikan tonggak macu ini  Syekh Maulana Sofi bekerja sendirian, beliau melakukan semacam Sholat Sunat dan membaca do’a kepada Allah SWT, dan sambil mendekati tonggak macu tersebut beliau menggerakkan jari – jemarinya,. Dengan perlahan tonggak macu tersebut berdiri mengikuti gerak tangan sang ulama tersebut. Setelah itu baru dilanjutkan pekerjaan memasang kayu-kayu yang lainnya sehingga berdirilah dengan megahnya Masjid Kurang Aso Anam Puluah di tengah Kerajaan ALam Surambi Sungai Pagu.

Pada masjid ini tergambar dengan jelas kerja sama anatara Kaum Ulama dengan Kaum Adat di Alam Surambi Sungai Pagu, karena Para Ulama itu sendiri adalah Kaum Adat itu juga. Lain halnya di daerah Minangkabau lainnya. Masjid didirikan oleh Kaum Agama, sedangkan Kaum Adat tidak ikut serta didalamnya. Maka dengan mudah Penjajah Belanda untuk mengadu domba Kaum Adat dengan Kaum Agama, dan akhirnya keluarlah kesepakatan di Bukit Marapalam yang dikenal dengan falsafah Adat Minangkabau yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Dari ornament-ornamen Masjid tersebut terkandung falsafah-falsafah yang menggambarkan kesatuan dan persatuan serta musyawarah dan mufakat hingga tingkat-tingkat keimanan dan martabat kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu.

Pada suatu kali Tonggak macu ini bergetar dengan hebat, sehingga berhamburan orang yang sedang beribadah didalamnya keluar karena ketakutan, disangka terjadi gempa. Sedangkan dinding dan tiang yang lain tidak terjadi apa-apa. Setelah hal itu terjadi beberapa kali, akhirnya orang tahu bahwa tonggak macu akan bergetar hebat bila salah seorang dari jamaahnya berlaku tidak sopan, berkata-kata jorok atau bercanda dengan mendekatkan empu kaki ke tonggak macu tersebut. Sebagaimana di tempat ibadah lainnya semua orang haruslah berlaku dengan sopan santun, apalagi di Rumah Allah yang disebut dengan Masjid, Musholla, Langgar, Surau dan lain-lain.

Bagi masyarakat sekitar, Tonggak Macu tersebut dikeramatkan pula, bila seseorang memeluk tonggak macu tersebut dengan merentangkan tangan mengelilingi tonggak tersebut, ujung – ujung tangan dapat menyentuh ujung tangan yang lain, itu dipertandakan akan tercapai apa yang di cita-citakan.

Demikian uniknya pembangunan Masjid Kurang Aso Anam Puluah dan Syekh Maulana Sofi sebagai Ulama terkenal tersebut. Sampai saat ini masih kokoh berdiri di tempatnya, dan kita dapat berziarah ke Makam Syekh Maulana Sofi yang berada tepat di samping Mighrab Masjid tersebut.

Biografi singkat : Gamal Yusaf, St. Batuah lahir di Pakan Salasa, 17 Pebruari 1963 yang lalu. Sekolah Dasar di SD 01 Pakan Salasa kemudian SMP Negeri 1 Muaralabuh sampai SMA Negeri 1 Muaralabuh. sehingga menematkan S1 di ISTN Jakarta. Selama di Jakarta aktif berorganisasi. Jadi Pengurus KMM Istana Jaya (Korkom ISTN) dan KMM Jaya. Aktif di Organisasi Kemasyarakatan IKASUPA Jakarta (Ikatan Keluarga Alam SUrambi Sungai Pagu) sampai sekarang, BK3AM (badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau), Mengelola Sanggar Tari Syofyani -IKASUPA Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s