“SARANTAU SASURAMBI”

MOTTO PEMDA SOLOK SELATAN

“SARANTAU SASURAMBI”

Gambardan Latar Belakang Pencetusannya.

Oleh : Ir. Gamal Yusaf, Sutan Batuah

Dalam era Otonomi daerah, terbuka lebar wacana untuk Pemekaran Wilayah baru di Indonesia. Seperti Kabupaten Solok dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Solok (wilayah bagian utara) dan Kabupaten Solok Selatan (wilayah bagian selatan). Sudah tentu munculnya Kabupaten baru ini dengan sendirinya diperlukan identitas diri semacam Logo atau Slogan (Motto) untuk memudahkan mengingat dan membedakan dengan wilayah induk. (Kabupaten sebelumnya).

Logo atau simbul dari sebuah Kabupaten harus menggambarkan secara global dari Kabupaten yang baru tersebut, demikian pula Slogan atau Motto, mengandung Missi dan semangat yang diemban untuk membangun dan mengisi program-program Pemerintah kedepan.

Lahirnya Kabupaten Solok Selatan, adalah sebuah cita-cita masyarakat dan tokoh yang berasal dari wilayah Kabupaten Solok bagian Selatan mulai dari Kecamatan Lembah Gumanti, Kecamatan Pantai Cermin, Kecamatan Sungai Pagu dan Kecamatan Sangir, baik yang berada di kampung maupun yang berada di perantauan. Saat itu mereka sebut secara umum dengan nama Sailiran Batang Hari.

Dengan perjuangan yang alot bahkan terjadi tarik ulur antara Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten Solok sendiri dengan Panitia Pemekaran (independen). Akhirnya lahirlah Kabupaten Solok Selatan Walau dua Kec. Lembah Gumanti dan Kec. Pantai Cermin tidak termasuk kedalam Kab. Solok Selatan ini. Secara yuridis ditandai dengan terbitnya Undang-undang Mendagri No. 38 tahun 2003 tanggal 07 Januari 2003. Mendagri menunjuk seorang Bupati PLT untuk mempersiapkan pemilihan Bupati Defenitif melalui PILKADAL, yaitu Bpk. H. Aliman Salim (Alm) yang kemudian dilanjutkan / diperpanjang oleh Bpk. Drs. Marzuki Onmar sehingga terpilih Bupati I Kab. Solok Selatan Drs. H. Syfrijal J, M.Si dengan wakilnya H. Nurfirmanwansyah.

Waktu pimpinanan Bpk. Drs. H.  Aliman Salim (Alm), beliau mengadakan Sayembara Rancang Logo dan Motto Kabupaten yang diikuti oleh perancang / designer umum baik dari warga Solok Selatan dan dari luar Solsel.

Sesuai dengan Surat edaran dari PEMDA SOLSEL yang kami terima saat itu via Ketua Umum IKASUPA Jakarta, kami langsung mengirimkan beberapa design logo dan motto yang disyaratkan dalam surat edaran tersebut. Menurut informasi dari Bpk. Drs. Yusrizal Salta, yang menjabat sebagai Asisten I Bupati Solsel sa’at itu, menyampaikan bahwa sayembara sudah selesai berlangsung dengan sukses, beberapa peserta terpilih yang memenuhi kriteria penilaian sebanyak 10 orang, rancangan kami termasuk dalam kelompok 10 besar urutan ke 5 (lima). Kemudian dari 10 besar rancangan ini akan di rancang ulang sebuah Logo dengan mengakomodir dari rancangan terpilih.

Kalau diperhatikan, diperbandingkan secara umum design logo Kab. SOLSEL sekarang mengacu kepada rancangan yang kami ikutkan, terutama pada Motto SARANTAU SASURAMBI yang pasti diambil dari rancangan yang kami kirim.

Design Logo Solsel Yang katanya mengacu kepada ke 10 rancangan tersebut menggambarkan secara umum Alam, Budaya dan Sejarah, Ekonomi, Potensi Alam dan Ideologi masyarakat Solsel yaitu masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu dan Rantau XII Koto.

Motto/Slogan “SARANTAU SASURAMBI” ini muncul berawal dari slogan IKASUPA Jakarta dalam rangka Halal bi Halal bersama IKAR XII KOTO pada tahun 2004 yang lalu, dimana Slogannya adalah SARANTAU SAPARINDUAN, yang berarti, sama-sama hidup di rantau (JABODETABEK) dan berasal dari wilayah yang sama yaitu Alam Surambi Sungai Pagu dan Rantau XII Koto (Solok Selatan), menjalin silaturrahim yang erat di perantauan.

Kata “SARANTAU SASURAMBI” berasal dari kata ‘rantau’ dan ‘surambi’ dengan imbuhan awalan ‘sa’ menjadi ‘sarantau sasuarambi’. Pada bahasa Minangkabau awalan ‘sa’ yang terletak pada awal suku kata lain, maka berarti menyatakan satu atau bersama-sama, seperti kata pepatah, sa ciok bak ayam, sa danciang bak basi, sa hino sa malu, sa adat sa limbago dan seterusnya. Jadi dalam slogan Sa Rantau Sa Surambi mengandung arti bahwa Masyarakat Solok Selatan adalah merupakan satu kesatuan yang terdiri dari dua wilayah adat Alam Surambi Sungai Pagu dan Rantau XII Koto dan dua Kecamatan Besar Kec. Sungai Pagu dan Kec. Sangir. Bersama-sama membangun Kabupaten Solok Selatan dan masyarakatnya yang berkeadilan, makmur, aman, sentosa, baik Sosial, Budaya, Ekonomi dan Keamanan. sehingga dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan kabupaten lain di Indonesia. Kedua wilayah adat tersebut adalah sama-sama didalam Alam Minangkabau, Alam Surambi Sungai Pagu merupakan Surambinya Minangkabau sedangkan Rantau XII Koto merupan wilayah rantaunya Minangkabau. Maka dari dua ragam budaya dan wilayah administrasi ini dapat disatukan visi dan missinya menjdi satu Kabupaten Pemekaran dari Kabupaten Solok menjadi Kabupaten yang (untuk sementara) diberi nama Kabupaten Solok Selatan.

Dengan semangat “Sarantau Sasurambi” inilah Pemda Kab. Solok Selatan dan Masyarakatnya baik yang berada di Solok Selatan maupun yang berada di Perantauan bersatu dan bersinergi dalam rangka membangun dan mengisi “Kemerdekaan” ini dengan hal-hal yang positif, dalam mewujudkan cita-cita pendahulu kita yang telah berjuang dari lebih 50 tahun yang lalu untuk bisa berdiri sendiri, agar terangkat kepermukaan dari keterbelakangan, terisolir, termarginalkan, keterpurukkan dan lain-lain. Sehingga Bupati PLT Bpk. Drs. Marzuki Onmar pernah mengulas di Harian Singgalang dengan menyebut daerah Solok Selatan ini bagaikan Mutiara yang terpendam, bila digosok dengan keahlian tinggi, tak akan ternilai harganya. Tapi bila digosok tidak dengan ilmunya (tidak ahli) maka tunggulah kehancuran dan tidak akan ada nilainya.

Namun dari Nama SOLOK SELATAN kami rasa masih ada nilai rasa, dan ingatan orang dengan Kabupaten Solok, bahkan sering orang salah sebut, maksudnya Solok Selatan, disebutnya Kabupaten Solok saja. Hal ini memang sepele, tapi akan menjadi preseden tidak baik bagi pertumbuhan Kabupaten baru ini, kemandiriannya akan selalu dipengaruhi oleh Kabupaten Induk (d/h SOLOK). Jadi sebaiknya perlu ada pemikiran untuk merubah / mengganti nama Solok Selatan dengan sebutan lain yang lebih spesifik sesuai dengan asal usulnya / sejarahnya, seperti Kabupaten Darmasraya. Bagaimana kalau Surambi Minangkabau, atau Surambi Alam, tentu lebih gampang diingat dan mempunyai nilai sejarah, dan kultur budaya. Semoga terujud hendaknya, Amin.

Untuk itu marilah kita sama – sama seiring sejalan menuju cita-cita luhur para pejuang untuk mewujudkan kemandirian di Solok Selatan dengan mengoptimalkan SDA dan SDM yang kita miliki, bak kato pepatah lama,

“Ka hilia sa rangkuah dayuang, kamudiak sa hantak galah,

kabukik samo mandaki, kalurah samo manurun,

sa ketek samo dibagi, banyak samo dimakan,

sa ciok bak ayam sa danciang bak basi,

sa hino sa malu, sa sakik sa sanang,

sa raso sa pareso, sa adat sa limbago,

sa rantau sa surambi”

Jakarta,, 07 Januari 2010

Ir. Gamal Yusaf, Sutan Batuah.

FALSAFAH YANG TERKANDUNG pada MASJID KURANG ASO ANAM PULUAH


FALSAFAH YANG TERKANDUNG

pada MASJID KURANG ASO ANAM PULUAH

di Alam Surambi Sungai Pagu

 Oleh : Ir. Hasmurdi Hasan

 Jika ingin mengetahui sejarah perkembangan Islam di Sungai Pagu, salah satunya adalah dengan melihat bangunan Masjid Kurang Aso Anam Puluah. Dari bangunan Masjid tersebut kita dapat mengetahui budaya masyarakatnya, dari bentuk Arsitekturnya kita dapat mengetahui kurun waktu pembuatannya dan dari proses pembangunannya kita dapat mengetahui sejarah perkembangan Islam di Sungai Pagu.

Dalam kancah kebudayaan di jagat raya ini, budaya Minangkabau kebetulan tergolong ke dalam kelompok budaya majemuk yang lebih banyak menerima dari pada memberi. Berbeda dengan kelompok budaya tunggal, seperti yang dianut di Cina, India dan Arab, yang sebaliknya, yakni lebih banyak memberi dari pada menerima, atau sekurang-kurangnya memberi dan menerima. Perilaku budaya majemuk ini telah kita warisi dari nenek moyang kita sejak dahulu, tak terkecuali penduduk Alam Surambi Sungai Pagu. Hal ini dapat kita buktikan melalui bangunan Masjid Kurang Aso 60 yang memiliki model campuran Arsitektur Hindu-Jawa ( atap Joglo ), Klenteng Cina ( lengkung jurai atap ) dan dipadu dengan Arsitektur tradisional Minangkabau ( atap Miqrob dan susunan tonggak ).

Masjid Kurang Aso 60 adalah masjid tertua di Alam Surambi Sungai Pagu, dibangun secara gotong royong oleh masyarakat adat. Menurut tutur orang-orang tua , tonggak Machu masjid ini berasal dari sebatang pohon Juar yang ditebang di puncak bukit seberang Batang Suliti dan  ditarik ke lokasi secara gotong royong berikut dahan dan daunnya. Masjid yang terletak di Pasir Talang ini letaknya berdekatan dengan bangunan Balai Adat. Dalam adat Minangkabau syarat-syarat syahnya sebuah Nagari harus memiliki Balai Adat, Masjid, Labuah / jalan, Tapian / tempat MCK.

Masjid yang terdapat di Pasir Talang ini diberi nama Masjid Kurang Aso Anam Puluah, sesuai dengan jumlah bilangan tonggak / tiangnya,  merupakan perwujudan dari jumlah Penghulu Induk / Nyinyiak urang Sungai Pagu. Mereka inilah yang berperan aktip secara gotong royong membangun masjid ini.

Masjid Kurang Aso 60 adalah model masjid tradisional Minangkabau dengan corak Arsitektur Hindu-Jawa Abad ke 15 M, belum ada data pasti tentang tahun pembuatannya. Tapi  berdasarkan informasi dari Ibu Nuraini umur 76 tahun, suku Jambak-Koto Anyir, masjid ini telah ada sebelum tahun 1733 M, karena rumah gadang beliau ( kaum Inyiak Talanai ) dibuat pada tahun 1733 M, sedangkan masjid tersebut pada waktu itu telah ada menurut tutur Nenek beliau. Begitu juga kalau kita lihat keberadaan makam Syeh Maulana Sofi, seorang ulama besar  di Sungai Pagu yang hidup antara tahun 1730 s.d tahun 1818 M, posisi makam beliau terletak di Miqrob Masjid, berarti Masjid ini telah ada sebelum keberadaan beliau.

Bangunan masjid konstruksi kayu dengan ukuran panjang 17m, lebar 17m dan tinggi 17m, atap berbentuk limas bersusun tiga, mirip dengan atap bangunan Klenteng Cina, bahan atap pada awalnya terbuat dari ijuk dan telah beberapa kali diganti dengan seng. Tonggak / tiang kayu berjumlah 59 buah, pada bagian tengah terdapat tonggak paling besar ukurannya disebut tonggak Machu.

Masjid Kurang Aso 60 disamping sebagai tempat ibadah juga dipergunakan sebagai tempat upacara adat, seperti upacara makan-makan Turun Ke Sawah-Mambantai Kabau Nan Gadang. Masjid ini adalah perwujudan  Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah. Bangunan masjid ini sarat dengan makna, pada setiap bagian bangunan tersirat lambang-lambang yang mengandung arti dan masih dapat ditafsirkan sampai saat ini, seperti:

  1. Ukuran masjid 17m x 17m adalah melambangkan jumlah rakaat sholat wajib dalam sehari-semalam.
  2. Lantai masjid terdiri dari 3 tingkat melambangkan tingkatan ajaran Islam, yaitu syari’at, hakikat dan ma’rifat. Dari lantai dasar naik ke lantai satu disediakan tangga kayu yang dapat digunakan oleh semua orang, jumlah anak tangganya sebanyak 6 buah, melambangkan rukun iman. Sedangkan untuk naik dari lantai satu ke lantai dua tidak disediakan tangga, yang ada hanya berupa kayu yang ditekuk pada tonggak Machu, ini melambangkan usaha, bahwa untuk sampai ke tingkat ma’rifat seseorang harus tekun dan berusaha serius untuk mencapainya. Jumlah tekukan kayu di tonggak Machu berjumlah 5 buah, melambangkan rukun Islam.
  3. Atap berbentuk limas bersusun tiga, melambangkan susunan masyarakat adat di Alam Surambi Sungai Pagu yang terdiri dari Suku, Paruik dan Anak Paruik, sedangkan atap Miqrob berbentuk puncak rumah gadang melambangkan adat Minangkabau.
  4. Pintu masjid berjumlah 3 buah, pintu utama terdapat di depan menghadap ke halaman, dua buah pintu lagi terdapat disisi Utara dan Selatan. Pintu utama adalah tempat masuk tamu dan rajo, sedangkan pintu sebelah Utara tempat masuk suku Melayu dan Panai, pintu sebelah Selatan tempat masuk suku Kampai dan Tigo Lareh Bakapanjangan. Aturan ini hanya berlaku apabila berlangsung upacara adat. Pintu utama letaknya tidak simetris tapi agak berat ke Utara, melambangkan sejarah keberadaan suku Melayu sebagai pendahulu suku. Pintu utama terdiri dari dua gerbang, melambangkan Dua Balahan Gadang suku yang ada di Sungai Pagu.
  5. Tingkok / jendela, pada lantai dasar di dinding bagian depan terdapat 5 buah tingkok, 2 tingkok disisi Utara pintu utama melambangkan rakaat sholat Subuh, sedangkan 3 tingkok disisi Selatan pintu utama melambangkan rakaat sholat Maqrib. Subuh dipagi hari, Maqrib di sore hari digambarkan pada arah dari Utara ke Selatan, jugamelambangkan sejarah keberadaan suku Melayu sebagai pendahulu suku yang ada. Begitu juga tingkok yang terdapat di kedua sisi dinding Utara dan Selatan masing-masing berjumlah 5 buah, juga melambangkan rotasi  kehidupan manusia, waktu Subuh dan Maqrib berakhir  ke arah Miqrob. Pada lantai 2 di dinding bagian depan terdapat 4 tingkok, begitu juga di  dinding sisi Utara dan sisi Selatan, ini melambangkan 4 rakaat Sholat wajib seperti, Juhur, Ashar dan Isha. Pada lantai tiga terdapat dua tingkok melambangkan rakaat Sholat Sunnah. Sedangkan satu tingkok yang terdapat di tingkat Qubah yang dipergunakan tempat Azan, melambangkan Ke Esaan Allah.
  6. Qubah, bagian Qubah yang terdapat paling atas, terletak di atas tiga undakan atap limas melambangkan Rajo Nan Barampek Sedaulat. Qubah ini diletakkan di atas ujung tonggak Machu, melambangkan pucuak bulek urek tunggang, bahwa Rajo Nan Barampek adalah berfungsi sebagai pucuk/ pimpinan adat pada setiap sukunya. Di ke empat sudut atap Qubah terdapat sondak langik / tiang bubungan sebanyak 4 buah, 2 buah berbentuk bulat dan 2 buah berbentuk runcing, melambangkan 2 Balahan Gadang Suku yang menggunakan paham kelarasan Koto-Piliang ( digambarkan runcing ) dan Bodi-Caniago ( digambarkan bulat ).
  7. Ruang, secara garis besar ruangannya dibagi atas 6 bagian memanjang ke arah Miqrob yang dibatasi oleh tonggak, 2 bagian ruang sisi Utara adalah tempat duduk suku Melayu dan Panai, 2 bagian ruang sisi Selatan tempat duduk suku Kampai dan Tigo Lapeh Bakapanjangan. Sedangkan 2 ruang yang ada di bagian tengah diperuntukan untuk duduk tamu. Aturan ini berlaku apabila berlangsung upacara adat. 

Demikian sekelumit pendekatan sejarah dan makna yang tersirat pada bangunan masjid Kurang Aso 60, semoga melalui tulisan ini kita bisa lebih mengenal peninggalan sejarah yang mempunyai nilai sangat tinggi ini, kita pantas berbangga karena Nenek Moyang kita ratusan tahun yang lalu telah mampu menghasilkan  karya Arsitektur melalui bangunan Masjid Kurang Aso 60 yang memiliki filosofi yang tinggi. HH.1105

Biografi SINGKAT :

Ir. Hasmurdi Hasan, Lahir di Jambi, 26 Februari 1956. Sarjana Teknik Lingkungan ITB Bandung, Bkerja di Aetra – PAM JAYA. Sekretaris Umum IKASUPA Jakarta dan telah meneulis sebuah buku Ragam Rumah Adat Minangkabau, Falsafah, Pembangunan dan Kegunaannya.2004. Aktif menulis tentang Budaya dan Adat Minangkabau khususnya ALam Surambi Sungai Pagu di berbagai media. Pengurus IKASUPA Jakarta dsk. sebagai  Sekretaris Umum.

ASAL USUL DAN URAK URAIAN ALAM PAUAH DUO NAN BATIGO

ASAL USUL DAN URAK URAIAN
ALAM PAUAH DUO NAN BATIGO
dari CERITA, TUTUR, TAMBO di Masyarakat Alam Pauah Duo Nan Batigo .

Dek : Ir. Gamal Yusaf, Sutan Batuah.

PENDAHULUAN

Semenjak tahun 2003, tepatnya setelah Lokakarya Adat dan Budaya Minangkabau di Aula Timur ITB Bandung (23-24 Agustus 2003) yang dilaksanakan oleh PKM Jawa Barat – Bandung dan GEBU MINANG, membuat kesan khusus bagi kami dari Yayasan Tuah Nagari dan IKASUPA Jakarta dan Sekitarnya Ikut serta dalam acara tersebut, kami merasa terpanggil untuk mengenal lebih dalam tentang Adat Budaya Alam Surambi Sungai Pagu, yang dalam lokakarya tersebut Alam Surambi Sungai Pagu tidak dikenal oleh peserta lokakarya yang berasal dari seluruh daerah perwakilan yang ada di Sumatera Barat dan Perantau di Jakarta dan Bandung, lebih miris lagi, salah seorang pemakalah yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri UNAND Padang, seorang ahli Antropogi, yaitu Bapak DR. Nursirwan Effendi, MM. (Kepala BKSNT (i)-Padang) juga tidak mengenal sama sekali, dimana, dan apa itu Alam Surambi Sungai Pagu. Berawal dari situ, Pembina Yayasan Tuah Nagari(ii) dan Ketua Umum IKASUPA Jakarta (iii) membentuk kelompok kecil melakukan dialog-dialog dan diskusi bersama tokoh-tokoh Masyarakat yang berada di Jakarta secara rutin satu kali dalam sebulan di Rumah Makan Gurih Jakarta Selatan dan Gedung Bidakara Jakarta untuk menggali sumber-sumber informasi pengetahuan tentang budaya dan wacana kedepan untuk mangapungkan Alam Surambi Sungai Pagu ke permukaan, sehingga kasus di Lokakarya tersebut tidak terulang lagi.
Bermacam kegiatan yang monumental telah kami laksanakan, antara lain dialog dengan Penghulu Adat dan Ninik Mamak di Alam Surambi Sungai Pagu di Kampus WIDYASWARA INDONESIA, Dialog dengan tokoh-tokoh Adat dan Masyarakat di Perantauan (Khususnya Jakarta), Mengundang dan Mengunjungi Tokoh Adat dari Alam Surambi Sungai Pagu seperti Tuanku Rajo Bagindo serta jajarannya, Tuanku Rajo Malenggang serta jajarannya, Tuanku Rajo Batuah serta jajarannya, Dialog dengan Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah serta jajarannya, disamping kegiatan sosial kemasyarakatan dikampung halaman Alam Surambi Sungai Pagu berupa, Proyek percontohan Pembangkit Listrik Micro Hydro di Banuaran – Alam Pauah Duo, Percontohan Bio Gas dan Pengembangan Jamur Tiram di SMA 1 Muaralabuh Solok Selatan, Penggunaan Pupuk Tablet untuk meningkatkan hasil panen Padi di Banuaran Alam Pauah Duo, Seminar tentang Alam Surambi Sungai Pagu dan Peluncuran Buku Rumah Gadang Falsafah Pembangunan dan Kegunaannya.di Hotel Bumi Minang Padang, hasil karya Kanda Ir. Hasmurdi Hasan, Kunjungan Tokoh-tokoh Nasional ke Alam Surambi Sungai Pagu – Solok Selatan dan memfasilitator Media Cetak dan Televisi Nasional untuk meliput keindahan alam dan budaya di Alam Surambi Sungai Pagu (Solok Selatan). Pemugaran Masjid Lama Kurang Aso Anam Puluah di Pasirtalang bersama BP3 (Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala) Jakarta dan BP3 Pagaruyuang. selama 4 tahun (2003-2006) berturut-turut intensif melaksanakan kegiatan tersebut. Disamping itu selalu dilaporkan ke Masyarakat dalam bentuk tulisan bersama Warta IKASUPA yang terbit tiga bulan sekali. Banyak lagi kegiatan-kegiatan lain yang kami lakukan selama kurun waktu 4 tahun, bahkan sampai sekarang missi tersebut tetap berjalan secara berkala ada pertemuan dengan Tokoh-tokoh di Jakarta.
Dalam kesempatan itu pula kami, (Ir. Hasmurdi Hasan, Johni Ersal, Dt. Rajo Pangulu, dan Ir. Gamal Yusaf, Sutan. Batuah) mengambil kesempatan berdialog secara khusus dengan tokoh-tokoh adat sebagai praktisi yang memahami dan mengerti masalah adat dan budaya di Alam Surambi Sungai Pagu.
Khusus di Alam Pauah Duo, penulis berdialog dengan Tokoh Adatnya seperti Kanda Tabrani, Dt. Rajo Mulia, S.Pd (tak rajo kaganti rajo), J. A. Nasir, Dt. Rajo Mantari, A.MA (Camin Taruih di Alam Pauah Duo), dan masyarakat umum. Dari sini penulis coba mengumpulkan dan menyatukan semua cerita (tutur) dari sumber-sumber hidup tersebut. Berbagai ragam dan versi dari cerita dan tutur tersebut, namun penulis coba menarik benang merah sejarah untuk dituangkan dalam bentuk tulisan.
diantaranya tulisan yang pernah terbit antara lain ;. Quovadish Sungai Pagu, Cerita Legenda Syeh Maulana Sofi dan Masjid Kurang Aso Anam Puluah, Taratik, Nasib si Daun Kunyik jo Daun Asam, Mamabantai Kabau Nan Gadang di Alam Pauah Duo nan Batigo, dan lain-lain yang belum rampung penulisannya. Sebagian juga pernah terbit pada Warta IKASUPA dan Majalah TITIAN.
Asal Usul dan Urak Uraian Alam Pauah Duo ini masih jauh dari sempurna, banyak yang perlu diperbaiki, ditambah atau dikurangi dan dikoreksi untuk mencapai suatu titik temu yang mendekati kebenaran dari segala sudut pandang, karena tanpa tanggapan dan kritikan yang membangun, khasanah ini akan buntu. Penulis dengan terbuka untuk menerima kritikan dan masukan yang positif dan berharga, baik berupa buku-buku atau tulisan sejarah dan budaya masyarakat khususnya cakupan Alam Surambi Sungai Pagu. Tanggapan dan kritikan baik berupa bahan tulisan, rekaman cerita / tutur tersebut dapat dikirim melalui e-mail ganyang_gamal@yahoo.com atau ke alamat Mitra Abadi Printing Komplek. PLN Klender No. 15 Jl. Pahat RT. 010/02 Jatinegara. Jakarta 13930.
Sebelumnya penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segala kritikan dan saran yang pembaca sampaikan dan mohon ma‟af bila ada kekeliruan dan kesalahan baik cara penyampaian, tata tulisan yang kurang memenuhi kaedah Bahasa Indonesia yang benar, itu mutlak kekurangan penulis.
Maaf kapado nan tuo – tuo,
baiek nan ado maupun nan tiado,
karano kito kan mambaco sajarah Nagari kito,
dan akan manyabuik dan mamaki namo niniak kito,
asa usuanyo kito barado,
ulu pusako nan kito warisi.
Kok umua baru satahun jaguang,
kok darah baru satampuak pinang,
pangalaman kurang dalam bagaua
tolong tunjuak ajari nak tarang jalan kamuko

LATAR BELAKANG
Asal kata Alam Pauah Duo terdiri dari tiga suku kata yaitu Alam, Pauah dan Duo. Yang disebut dengan Alam disini adalah suatu wilayah adat yang segala sesuatu keputusan dan kebijaksanaan yang diambil oleh pemuka adatnya tidak perlu meminta pertimbangan dan persetujuan dari wilayah adat lain (Alam Surambi Sungai Pagu misalnya ; Red), dan merupakan berdiri sendiri dengan adat (aturan dan peraturan) yang berlaku di wilayah adat itu sendiri. Pauah adalah berasal dari kata benda yaitu Paruh (mulut) pada burung seperti pada kata pepatah “kusuik bulu pauah manyalasaikan” (bila bulu burung tersebut kusut maka paruhnya yang akan merapikan kembali) jadi fungsinya seperti kata pepatah tersebut, bila ada permasalahan dan persengketaan dalam masyarakatnya maka pimpinannya yang akan menyelesaikan persoalan tersebut, sedangkan kata Duo yaitu merupakan jumlah dari nenek moyang / pimpinan dimasa itu ada dua orang seperti yang tersebut dalam Tambo adat Alam Surambi Sungai Pagu yaitu Inyiak Samiek dan Inyiak Similu Aie, maka disimpulkan bahwa arti dari Alam Puah Duo adalah : Suatu wilayah Adat yang dikuasai dan dipimpin oleh Dua orang Inyiak. Yaitu Inyiak Samiek dan Inyiak Similu Aie, Diasamping itu beliau mempunyai seorang dubalang yang namanya disebut Inyiak Sikok Sutan Majolelo.

GELOMBANG PERTAMA, INYIAK SAMIEK DAN INYIAK SIMILU AIE
Seperti yang telah dituturkan kepada penulis oleh Kanda Jamal Abdul Nasir, A.MA, Dt. Rajo Mantari yang berfungsi sebagai Camin Taruih (iv) di Alam Pauah Duo dari Suku Tigo Lareh. Nenek Moyang yang pertama kali datang dan tinggal menetap di Alam Surambi Sungai Pagu tepatnya di wilayah Pauah Duo adalah Inyiak Samiek dan Inyiak Similu Aie, yang „konon‟ datang dari benua Mesir (Timur Tengah), kira-kira/sekitar ± 450 th SM, beliau datang untuk mencari wilayah baru (jembang) yang baik tempat tinggal atau menetap, dengan menelusuri Sungai Batang Hari dari muara ke hulunya, pada masa itu lebih gampang menelusuri sungai dari pada masuk kedalam hutan belantara, karena jalur sungai ini dapat ditempuh dengan mudah tanpa rintangan yang berat, rombongan ini adalah rombongan yang pertama datang. Untuk mengetahui suatu wilayah cocok atau tidaknya untuk ditempati, beliau membawa „air‟ yang berasal dari sungai Nil (Mesir) dengan sebuah Kendi (wadah / tempat air), dimana air yang di temui akan ditimbang dengan air dalam Kendi tersebut. Bila air tersebut sama beratnya, maka wilayah tersebut cocok dan baik untuk tempat berdiam dan berkembang biak.
Rombongan ini menelusuri sungai tersebut sehingga sampai bertemu muara dua buah sungai/batang air (batang Bangko dan Batang Suliti), rombongan tersebut terus menelusuri batang Suliti sehingga bertemu wilayah yang agak datar dengan hamparan pasir yang luas (Pasir Talang sekarang) dimana pasir yang gemilang terhampar disepanjang sungai tersebut. Sampai disana rombongan ini berhenti dan istirahat, untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka menangkap ikan dengan alat penangkap ikan seperti tangguak yang disebut dengan Lapun, sebagian ada yang menyebut Lakun namun tujuan / artinya sama. Maka dalam sejarah Alam Surambi Sungai Pagu, wilayah pertama yang dihuni mereka
sebut Banda Lapun/Lakun. Setelah diadakan penelitian dengan cara menimbang air dalam kendi dengan air yang ada di sana maka ternyata airnya tidak sama berat. Akhirnya mereka berpindah dari wilayah tersebut ke arah selatan, arah hilir Batang Suliti sehingga mereka bertemu dengan muara sungai yang pernah mereka temui sebelum sampai di Pasir Talang. Ditelusuri pula sungai tersebut. dan diteliti / ditimbang pula airnya, hasilnya mulai agak mendekati berat air dalam kendi tadi sehingga dimudiek-i pula sungai yang satu ini dengan kondisi yang sangat rapat pohon dan semak belukar disekitar sungai tersebut, karena sangat rindangnya pepohonan sehingga mereka sebut kondisi saat itu dalam ungkapan : kayu gadang basilek banyie, rotannyo bajalingke, bakuangnyo basingguang daun, lagi samak lagi samun,
Yang kelihatan hanya lobang yang bisa ditempuh dengan cara manyaruak di sela-sela akar kayu dan rotan yang sangat lebat, menurut tuturan kanda Jamal Abdul Nasir, A.MA, Dt. Rajo Mantari, dari disinilah asal kata Batang Bangko adalah dari kodisi medan saat itu yang di tempuh, yaitu lubang ko (lobang ini).
Setelah beberapa jauh bertemu dengan muara sungai (di sekitar Benteang Koto Baru sekarang) Karena lakek jajak, maka mereka namai pula sungai ini dengan Batang Pulakek dan ditempuh pula (mudiek-i) sungai Batang Pulakek ini sehingga bertemu dengan anak sungai yang melintas (malinte,), maka ditimbang pula air tersebut dengan air yang di dalam kendi, ternyata sama beratnya, akhirnya dimudiek-i anak sungai tersebut yang terakhir mereka beri nama dengan Batang Malinte Mudiek, dicari lokasi disekitar Batang Malinte Mudiek tadi, daerah yang baik untuk tempat menetap, jembang nan elok maka dibutlah koto yang sampai sekarang kampung tersebut terkenal dengan sebutan Koto Tuo di Jorong Taratak Bukareh. Memang dalam sejarah (ranji) yang dibacakan / diceritakan turun temurun di Alam Pauah Duo, Koto Tuo tersebut adalah sebagai kampung asal.
Setelah itu Inyiek nan Baduo berkembang dan mencari daerah untuk bercocok tanam atau kesawah, sampailah mereka menaruko sawah dan parak di daerah Pauah Duo, kearah tepi sungai Batang Bangko, tepatnya di daerah Ujung Jalan sekarang, disitu ada nama kampung Pauah Duo.
Sebelum ditempati wilayah Pauah Duo, ternyata daerah ini telah berpenghuni, konon ditempati oleh bangsa Jin yang dalam cerita/tuturan orang tua-tua (legenda) disebut dengan nama si Tatok, si Taraan, si Anja dan si Pilian atau disebut juga Inyiek Garagasi, atau sama dengan Raksasa kata mereka inilah yang menguasai wilayah tersebut. Dengan kekuatan rombongan Inyiek Samiek dan Inyiek Similu Aie beserta dubalangnya/ pasukan yang bernama Inyiek Sikok Simajolelo, Inyiek Alang Palaba dan lain lain, mencoba mengusir dan melawan bangsa Inyiak Garagasi tadi, setelah Inyiak Garagasi tadi merasa dikalahkan oleh bangsa Manusia, maka Inyiek Garagasi marah dan akan menjadikan wilayah ini menjadi danau kembali seperti zaman purbakala, bumi alun basentak naiek, aie alun basentak turun, diambilnya sebuah bukit di sekitar Taratak Paneh (sebagian tutur menyebut seekor ular besar) dan dibawa ke arah Ambayan, disana tempat muara dua buah sungai Batang Suliti dan Batang Bangko yang melewati celah bukit batu. Sebelum sampai di disana ternyata hari sudah pagi, Ayam lah Bakukuak, Murai lah bakicau, kira-kira menjelang subuh, fajar terbit di timur tanda hari sudah siang, maka Inyiek Garagasi tadi lari tunggang langgang sehingga bukit yang dibawanya tadi ditinggalkannya di daerah Koto Baru yaitu Bukik Pamatang sekarang. Memang kalau diperhatikan fisik / bentuk secara visual Bukik Pamamatang mulai dari Rao-rao Koto Baru (ekor ular) sampai ke Kapalo Bukik (kepala ular) berkelok-kelok seperti badan ular, wallahu’alam !
Si Anja dan si Taraan lari ke daerah Lubuk Gadang dan meninggal disana, sedangkan si Tatok lari ke laut, konon mati di pulau Carocok / Mentawai dan si Pilian lari sampai ke Aceh yang dikejar oleh Inyiek Alang Palaba, bersama pasukannya.

GELOMBANG KEDUA, INYIAK NAN SALAPAN
Semakin lama wilayah ini makin berkembang, sawah taruko semakin luas karena keluarga Inyiek Samiek dan Inyiek Similu Aie semakin berkembang biak pula, sampai suatu ketika (kurun waktu yang sangat panjang) datang rombongan baru ke dekat persawahan mereka tersebut, yang disebut dengan Inyiek nan Salapan yang berjumlah delapan orang (kelompok?) yaitu :

  1. Inyiek Nan Kawi Majo Ano (sebagai Kepala Rombongan)
  2. Inyiek Ramang Itam
  3. Inyiek Ramang Putieh
  4. Inyiek Ratu Sarek
  5. Inyiek Indalan
  6. Inyiek Kumbo
  7. Inyiek Ba’ani
  8. Inyiek Candai Aluih

Rombongan Inyiak Nan Salapan ini menelusuri jejak dan lintasan yang sama dengan lintasan yang ditempuh oleh Inyiek Samiek jo Inyiek Similu Aie sebelumnya, orang yang pertama datang di Koto Tuo dan membuat Nagari Alam Pauah Duo. Samapai pada peertemuan Batang Suliti dan Batang Bangko, dilihat airnya agak sedikit keruh dan ditempuh ditelusuri pula mudiek Batang Bangko sehingga sampai di daerah Kapau sekarang. Dari sana terlihat oleh mereka kepulan asap di sebelah kiri (timur), maka mereka pahami bahwa disitu sudah ada orang yang tinggal dan bermukim.
Tanpa mengganggu ulayat / wilayah penduduk yang sudah ada disana, maka rombongan Inyiak Nan Salapan tadi membangun daerah baru pula di Banuaran (asal katanya Benua = tempat tinggal), mereka membuat kampung pula disana dengan taratak seperti (Taratak Paneh, Batu Bajarang, Batu Bangkai, Bulantiek dan lain lain disekitarnya).
Setelah mereka bergabung dan membangun kampung secara bersama-sama berdampingan dan bersosialisasi dengan penduduk yang sudah dahulu menetap di sana, kehidupan masyarakatnya aman damai dan tentram sampai terbentanglah sawah-sawah yang luas di dataran rendah antara Banuaran (di kaki bukit sebelah barat) dan Koto Tuo (di kaki bukit di sebelah timur) dan diantara persawahan mereka tadi mengalir dua sungai yaitu Batang Bangko dan Batang Pulakek, Padi manjadi Jaguang maupie, Taranak bakambang biak. Kedua kelompok hidup berdampingan dan berbaur satu sama lain dibawah pimpinan Inyiak Samiak dan Inyiak Similu Aie di Alam Pauah Duo dan Inyiek Nan Kawi Majo Ano di Banuaran, layaknya mereka bersaudara.

GELOMBANG KETIGA, INYIAK KURANG ASO ANAM PULUAH
Pada suatu masa (kurun waktu yang panjang) datang pula rombongan Inyiek Kurang Aso Anam Puluah yang membawa aturan – aturan adat dan budaya dari kerajaan Alam Minangkabau dari Pariangan Padang Panjang. ke Alam Surambi Sungai Pagu yang masa itu disebutnya Lakuak Banda Lakun. Rombongan ini datang dari arah utara menyelusuri Sungai Batang Hari ke arah selatan sehingga sampai pula rombongan ini di Pasir Talang, mereka tepati disana sudah ada tanda-tanda bekas kehidupan. Lama kelamaan mereka mengikuti jejak rombongan yang terdahulu yaitu rombongan Inyiak Samiak dan Inyiak Similu Aie dan rombongan Inyiak Nan Kewi Majo Ano. dan sampai di muara Batang Pulakek (Benteang) sudah ada kehidupan mereka jumpai masyarakat disana, dengan menyelusuri Batang Pulakek mereka sampai di Lubuak Jariang dan bertemu dengan dua orang pimpinan disana yaitu keturunan Inyiak Samiak dan Inyiak Similu Aie yang menguasai wilayah Alam Pauah Duo saat itu. Mereka mencoba mempengaruhi dan membujuk kedua orang tadi untuk menyerahkan wilayah tersebut kepada mereka untuk wilayah baru, dan mereka yang mengatur segala sesuatunya. Tentu penduduk asli di Alam Pauah Duo tidak setuju dengan begitu saja sehingga sempat terjadi perselisihan anatara dua kelompok ini, yang konon pula terjadi pertempuran di sepanjang sungai Batang Pulakek sampai ke pertemuan dengan Batang Bangko, sehingga di muara Batang Pulakek ada kampung sampai sekarang diberi nama “Benteng” tempat atau garis batas pertahanan pasukan Inyiak Samiek dan Inyiak Similu Aie dibawah komando Inyiak Alang Palaba dan Inyiak Sikok Simajolelo. sampai di Lubuak Jariang dihadang dengan menghalangi jalan tersebut dengan pagar dan parit atau pematang, yang mereka sebut Ampang Labua. Kelompok Inyiak Kurang Aso Anam Puluah memasuki wilayah Alam Pauh Duo sedikit agak memaksa dan keras menerapkan aturan-aturan adat yang mereka bawa, sehingga orang Alam Pauah Duo merasa di-alahan wilayah kekuasaannya, tak dapat dihindari perang pun terjadi pada perbatasan ulayat.
Karena Alam Pauah Duo rakyatnya sedikit untuk melawan Kelompok Inyiak Kurang Aso Anam Puluah yang lebih banyak, maka perang tidak seimbang, hingga akhirnya orang Alam Pauah Duo melawan dengan cara gerilya, merusak dan mengganggu ketenangan hidup mereka, kalau malam, air sungai di keruhnya, diberi tuba (racun dari tumbuhan), dikeringkan / dialihkan (mengalah) dan sebagainya, sehingga sawah dan kehidupan mereka terganggu atau tidak tenang.
Lama kelamaan Pimpinan Rombongan Inyiak Kurang Aso Anam Puluah mengambil kebijakan untuk mengirim juru bahasa untuk berunding dan berdamai dengan orang di Alam Pauah Duo. Maka dikirim sebagai juru bahasa dan juru runding tersebut adalah Datuak Rajo Nan Baso (dari suku Bariang di Pasir Talang), supaya hidup ada ketenangan dan sawah serta ternak tidak diganggu. Maka dibuatlah suatu kesepakatan untuk tidak saling mengganggu antara kedua belah pihak. Sampai sekarang Dt. Rajo Nan Baso menetap di Alam Pauah Duo dan Batigo, bergabung menjadi suku Melayu. Dalam rangka perdamaian inilah prosesi Mambantai Kabau Nan Gadang terjadi di Alam Surambi Sungai Pagu. Didalam prosesi tersebut tertuang perjanjian dan kesepakatan antara kedua belah pihak. Prosesi Mambantai Kabau nan Gadang yang bertepatan dengan akan memulai turun kesawah dan menetapkan beberapa pantangan dan larangan pada wilayah-wilayah vital seperti hulu sungai dan hutan. Diamana dihulu sungai (Batang Bangko, Batang Suliti dan Batang Pulakek) tidak dibolehkan Mangalah, Manubo, bahkan ada beberapa Lubuak Larangan disana ikan-ikannya tidak boleh ditangkap sampai batas waktu yang ditentukan. Kalau ke hutan tidak boleh menebang kayu, mahelo rotan dan sebagainya. Bagi yang melanggar kesepakatan itu akan dimakan sumpah, dihukum baik secara adat maupun secara moril. Untuk mengaplikasikan di seluruh wilayah ASSP, maka diadakan pula acara serupa di Koto Parik Gadang Diateh (Balun), Koto Baru, Pasir Talang dan di tutup dengan Mambantai Kabau Nan Gadang di Alam Pauah Duo nan Batigo yang disebut dengan Bantai Amad. Dalam Prosesi Mambantai Kabau Nan Gadang ini pula disepakati bahwa kerbaunya untuk upacara ini dipilih dan ditentukan oleh orang Alam Pauah Duo Nan Batigo, dipatuik harganya oleh orang di Balun (Parik Gadang Diateh) wilayah Tuanku Rajo Bagindo dan Kerbau dibantai di Pasir Talang – Sungai Pagu. Dalam perundingan tersebut disepakati bahwa wilayah adat Alam Pauah Duo ada didalam Wilayah adat Alam Surambi Sungai Pagu. Selesai Mambantai Kabau nan Gadang yang disebut Bantai Rajo-Rajo, maka ada pula Upacara Mambantai Kabau untuk penutup, disebut juga dalam Adat ,Bantai Amad‟. Upacara ini dilakukan oleh penduduk di Batang Malinte Mudiak, Alam Pauah Duo nan Batigo, dihadiri juga oleh Rajo-rajo atau yang mawakili Beliau sarta Niniak Mamak, pelaksanaannya dilakukan di Balai-balai lapeh, badindiang bukik, ba atok langik dan ba lantai tanah. Di sinilah tempatnya utusan atau wakil Rajo manyampaikan titah berupa Perintah atau Larang Pantangan supaya di jauahi, di sini pula diumumkan peraturan diundangkan supaya seluruh masyarakat daerah Batang Marinteh Mudiak (Alam Pauah Duo nan Batigo) :

  1. Diumumkan Palakat Turun Kasawah selengkapnya menurut tata tertib yang disusun.
  2. Diucapkan Amad yang isinya antara lain berbunyi :  a. Karimbo, kayu tak buliah di tabang, Rotan tak buliah dirangguikkan, Manau tak buliah di pancuang.b. Kabatang Aie, Aie tak buliah di karuah, batu tak buliah di baliak, tabiang tak buliah diruntuh.c. Ka Samak baluka, buah manih, buah masam tak buliah diambiak, dipanjek mudo dan lain lain.
  3.  Kok Pantang dilampaui, kok Amad dilansuangkan / dilangga :
  •  Ka bawah indak baurek
  •  Ka ateh indak bapucuak
  •  Di tangah tangah digiriak kumbang.
  •  Iduik sagan mati tak namuah, bak karakok tumbuah di batu

Upacara Bantai Amad ini dilaksanakan sabagai Upacara Penutup sebelum turun kesawah dan tiap Luhak atau Daerah kalompok sawah yang ada dalam lingkungan parik rantang Sungai Pagu boleh melakukan Upacara Mambantai Kabau, salo manyalo yaitu wakatunya antara Bantai Rajo dengan Bantai Amad, dengan jarak wakatu seminggu lebih kurang dengan tidak melanggar ketentuan yang telah ditetapkan.
Pada masa padi yang ditanam di sawah selesai disiangi sawah mulai dikeringkan, maka mufakat pula orang Pauah Duo bersama orang bano Ka Ampek Suku dan Rajo Mulia untuk mengakhiri / menghapus berlakunya titah dan pantangan yang berlaku atau Amad indak balaku lai yang di sebut „ Mambubuih Amad‟. Mambubuih Amad yang demikian rupa tidak boleh bebas dan leluasa untuk di cabut atau dilepas begitu saja, tapi harus di atur dengan tata cara dalam kebijaksanaan hukum-hukum tersebut, sepanjang hukum adat yang berlaku di Alam Surambi Sungai Pagu sabagai padoman :“Kok ma-ampang jaan sampai kasubarang, kok mandindiang jaan sampai kalangik” Dalam palaksanaan Mambubuih Amad tersebut diatur sedemikian rupa dengan tatakrama adat yang sangat tinggi, patatah patitih yang enak didengar namun mampunyai arti dan rahasia yang dalam, yaitu „ kok bubuih jaan maruntuah tabiang, kok ungkai jaan mararak bingkai” Maka melakukan sasuatu harus diatur dan teratur menurut cara yang sabaik-baiknya, baik arah kabukik, hutan rimbo, ka anak aie, jo sungai sungai, juo ka sasok karapuan tingga, supaya jangan terjadi pelanggaran hak milik. Demikian asal mulanya Mambantai Kabau nan Gadang yang dilakukan menjadi Adat Kabudayaan turun temurun setiap tahun mulai turun ka sawah di Alam Surambi Sungai Pagu. Semenjak itu pula orang Alam Surambi Sungai Pagu bebas tinggal diwilayah tersebut dan diberi wilayah bagi yang tinggal disana oleh orang Alam Pauah Duo yang sampai sekarang disebut Urang Bano Ka Ampek Suku, orang Malayu Kampuang Dalam yang dipimpin oleh seorang Raja yaitu Datuak Rajo Mulia (tak Rajo ka ganti Rajo dalam Kaum Malayu Kampuang Dalam) yang disebut dengan adat sa lingka parik. (Ampek suku : Malayu, Panai, Kampai dan Tigolareh). Semenjak adanya perdamaian tersebut Nagari ini disebut dengan Alam Pauah Duo nan Batigo, karena masyarakatnya dipimpin oleh Inyiak Samiek dengan bergelar sekarang Datuak Samad Dirajo, dan Inyiek Similu Aie yang bergelar Datuak Rajo Lelo. Datuak Rajo nan Baso memimpin Urang Bano Ka Ampek Suku yang berasal dari Alam Surambi Sungai Pagu. Maka tersebutlah dalam sejarah / tambo „Alam Pauah Duo nan Batigo’. bahwa Parahunyo; Alam Pauah Duo. Isiny; Bano Ka Ampek Suku, artinya wilayah Alam Pauah Duo nan Batigo yang masyarakatnya adalah Bano Ka Ampek Suku yang dibawa oleh Inyiak Kurang Aso Anam Puluah. KEPEMIMPINAN di ALAM SURAMBI SUNGAI PAGU Setelah mereka masyarakat Lakuak Banda Lakun hidup berdampingan secara aman, damai, dan tentram, Padi masak, jaguang maupiah, taranak bakambang pulo, tentu saja berkat penataan adat yang dibawa oleh Inyiak Kurang Aso Anam Puluah. dalam masa itu pula terjadilah krisis kepemimpinan di Lakuak Banda Lakun. Terjadi perebutan kekuasaan antara Kepala Suku yang ada di Pasir Talang (Bano ka Ampek Suku) Untuk menentukan yang akan dinobatkan sebagai Raja di Alam Surambi Sungai Pagu. Pada zaman sudah mulai berkembang dan kehidupan sudah terbentuk, damai, aman dan tentram maka dikirim utusan ke Pagaruyung untuk menentukan siapa yang akan memimpin Alam Surambi Sungai Pagu yang termasuk wilayah Alam Minang Kabau. Dikirim utusan dari Sungai Pagu. Dalam rombongan tersebut ada tiga orang dewasa, Sesampai di Pagaruyung Yang Dipertuan Raja Pagaruyuang bertanya kepada dunsanak mereka yang datang dari Alam Surambi Sungai Pagu apa maksud kedatangan mereka ke Pagaruyung, mereka menjawab, kami datang untuk memilih dan menentukan siapa yang patut / diangkat menjadi Raja Alam Surambi Sungai Pagu, kami diutus oleh anak kemenakan dari Alam Surambi Sungai Pagu para penghulu suku yang ada di Alam Surambi Sungai Pagu.
Untuk pemilihannya Yang Dipertuan memberikan beberapa syarat dan imbalan. Bagi yang berhasil memakaikan sebuah „Mahkota Kuala Qamar‟ keatas kepalanya, maka dialah yang didaulat sebagai Raja Alam Surambi Sungai Pagu. Masing-masing melakukannya secara bergantian dan semua mendapat / diberi Gelar dan Kekuasaan sesuai dengan kemampuan mereka.
Ketiga utusan tadi tidak ada yang berhasil memakaikan Mahkota tadi sampai di atas kepala mereka, ada yang hanya terangkat sampai sebatas pinggang ada yang hanya terangkat sebatas dada, dan ada yang sampai ke kepala tapi tidak terletak dengan baik (tidak sesuai). Sehingga Yang Dipertuan di Pagaruyung menyuruh kembali ke Banda Lakun rombongan yang bertiga tadi, namun masih belum tau siapa yang akan dinobatkan sebagai Raja Alam.
Setelah itu berangkat lagi utusan dari Sungai Pagu sebanyak empat orang termasuk dari Banuaran seorang anak kecil. mereka langsung menghadap Raja Alam Pagaruyung untuk mengangkat Mahkota tadi, namun tidak juga berhasil terpakai, ada yang mengangkat sampai pinggang, (diberi gelar Rajo Malenggang), ada yang mengangkat sampai di dada (diberi gelar Rajo Batuah), ada yang mengangkat sampai kekepala tapi tidak terletak dengan pas (di beri gelar Rajo Bagindo), kemudian Yang Dipertuan Rajo Pagaruyuang betanya kepada dunsanak yang bertiga. “Kalau ndak salah dunsanak tadi datang ado barampek urang, ma nyo surang lai ?” menjawab salah satu dari mereka “Inyo anak ketek, mungkin inyo lapa”. Sesampai di Istana dia langsung ke dapur (rumah bulek) mencari makan dan minum, bersama bundo kanduang, “Kini nyo ado di rumah bulek sadang makan jo bundo kanduang, Yang mulia”. “Kok lah salasai nyo makan surah kamari …” titah Raja. Kemudian hadirlah anak kecil tadi kehadapan Raja. Yang Dipertuan Raja Pagaruyung menyuruh pakai Mahkota tadi di kepalanya. Dengan enteng „anak kecil‟ tersebut memakai Mahkota itu dengan sempurna di atas kepalanya. Maka terpurangah utusan yang bertiga tadi memandang „anak kecil‟ tadi dengan gampangnya memakai Mahkota Kuala Qamar, terletak dengan pas (sesuai) maka dititahlah disaat itu bahwa yang menjadi Rajo Alam Surambi Sungai Pagu adalah si „anak kecil‟ ini yang bernama Samsudin Sadewano, nan ba jangguik merah ba gombak putieh Sedangkan Rajo Malenggang diberi tugas sebagai pemegang hak dacing dan keamanan, Rajo Bagindo sebagai Raja Adat, dan Rajo Batuah sebagai Raja Ibadat. Sesuai dengan janji Yang Dipertuan Raja Pagaruyuang,. Akhirnya Yang Dipertuan Raja Pagaruyuang menyuruh mereka kembali ke Alam Surambi untuk memimpin anak kemenakan mereka. Sesampai di Alam Surambi Sungai Pagu, Utusan yang bertiga tidak yakin dan tidak percaya, masa „anak kecil‟ tersebut yang akan memerintah kita di Alam Surambi…? dan Kenapa mereka tidak bisa mengangkat Mahkota Kuala Qamar tersebut…? Karena ketidak senangan dari utusan yang bertiga tadi, Raja Alam Surambi Sungai Pagu tetap di anggap sebagai „anak kecil‟ yang belum bisa apa-apa, sehingga untuk menjaga tidak terjadi perselisihan antara mereka berdunsanak, beliau Inyiek Samsudin Sadewano bersama beberapa orang dubalang pergi meninggalkan Alam Surambi Sungai Pagu dan „lari‟ dari kampung, Kepemimpinan Suku Melayu dipegang oleh Bagindo Saripado. Beliau merantau ke daerah Pesisir Selatan di Ampiang Parak. Selama ditinggalkan Alam Surambi Sungai Pagu menjadi suram dan tiadak aman, padi indak manjadi, taranak indak bakambang. Siapo nan bagak, nan bakuaso, sering terjadi perkelahian antar kampung, perampokan dimana-mana.

Maka dalam kondisi yang sulit tersebut barulah sadar Raja yang bertiga bahwa mereka telah membuat suatu kesalahan yang sangat fatal, telah menganggap enteng dan meremehkan Raja Alam Surambi Sungai Pagu yang dinobatkan oleh Raja Alam Minangkabau di Pagaruyuang. Akhirnya sepakatlah mereka untuk menjemput Raja Alam Surambi Sungai Pagu yang bergelar Daulat Yang Dipertuan Tuanku Rajo Disambah ke perantauan untuk kembali menduduki Singgasana di Alam Surambi Sungai Pagu, dengan mengirim utusan Sutan Rajo Mamat dari suku Durian ke Ampiang Parak memohon agar Daulat Yang Dipertuan kembali ke Alam Surambi Sungai Pagu untuk memimpin anak kemenakan di Alam Surambi Sungai Pagu. Setelah beliau kembali memimpin dengan sendirinya alam menjadi baik,
Padi manjadi, Jaguang maupieh, taranak bakambangmasyarakat aman sentoso, karena … Rajo nan Barampek duduak basamo,
saiyo sakato untuk memimpin Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu.
saciok bak ayam,
sadanciang bak basi,
kahilia sahantak galah,
kamudiak sarangkuah dayuang,
saiyo, satido,
saraso sapareso,
sahino samalu.

Di Banuaran kampung yang ditinggalkan oleh Inyiek Samsudin Sadewano yang telah dinobatkan sebagai seorang Raja di Alam Surambi Sungai Pagu, maka ditanamnya seorang wakil untuk memimpin anak kemenakannya di Banuaran (Alam Pauah Duo Nan Batigo) yaitu Bagindo Sultan Besar bersama Datuak Rajo Mulia (tak rajo kaganti rajo). Berdampingan dengan Penghulu yang lainnya memimpin masyarakat di Alam Pauah Duo nan Batigo.
BANUARAN dalam KABA / TAMBO ALAM SURAMBI SUNGAI PAGU
“Banamo Kampuang Banuaran, yaitu Kampuang nan Tatuo dalam Alam Surambi Sungai Pagu, kedudukan Daulat maso dahulu, mulo mandapek di Kualo Banda Lakun, datang dari hilir Batang Hari nan mamudiakkan Batang Bangko,
Banuaran Kotonyo Tuo,
tampek Inyiak Syamsudin Sadewono,
kebesaran tidak dijago alamat hancua kasudahannyo,
nan tuo Puti Lipur Jajak, Babungka Ameh duo baleh tail,
pandai batenggang di nan tidak wakatu lapang jaan jaie,
Diduduki wakil baliau sasudah pindah ka Kampuang Dalam, yaitu Bagindo Sultan Besar (?), memakai fungsi Daulat Tak Rajo Kaganti Rajo, didampingi Datuak Rajo Mulia yang memuliakan kebesaran Daulat tampek ba iyo jo batido, melaksanakan amanat dari Daulat, mamegang pitaruah dari Daulat, satitiak jadikan lauik, sabingka jadikan gunuang, pimpinan di Pauah Duo nan Batigo, melayiakan Parahunyo masiang-masiang nan dimueki ka ampek suku, kok satantang Bagindo Sutan Besar lambang di Pauh Duo nan Batigo, Nan Mamakai Tambilang nan Ampek, timbalan di Rajo Nan Barampek, nan Ba-sampiang Ba-urang Gadang, Nan ba-manti ba-ampang Limo. Basa Ampek Balai di Pagaruyuang, Bagindo Sutan Besar sarato Datuk Rajo Mulia dan Datuk Bagindo Mudo, Kaampek Datuak Rajo Nan Baso yaitu Urang Nan Satu Rumpun,
Kok Nan Tuo Datuk Rajo Mulia pucuak dari ampek buah Paruik, Kok Timbuah silang jo sangketo dan tumbuah jalan basaluran, kato pulang kapado pimpinan, kok satantang tambilang nan ampek nan duduk di pintu nan ampek, manjago kunci jan ta kilie, manjago pintu nak janngan kupak, lalok jangan kamalingan lupo jangan katinggalan, kok tagaknyo barampek gantang kok duduknyo batingkek barih, adat limbago kok di tuang, satitiak jangan di bari, baitu tibo di lantai tuo, ka pa angguakkan Daulat Nan Dipataruahkan kapado kamanakan Baliau Nan bagala Bagindo Sutan Besar, Pimpinan Pauah Duo Nan Batigo, Payuang Panji Kampek Suku.
Pihak di camin taruih, pamandang adat jangan rusak paliek barih jaan hilang, pancaliak pusako jaan lanyok, papatah sudah mangatokan, tibo di cupak samo kito lili tibo di undang kito karasi, hulu tidak ba muaro lai, di siko kusuik indak salasai – Ikolah kaguno camin oleh suntiang pamenan, pandang taruih dinan batin baliak jajak itu dari pauah duo nan batigo sataruihnyo kapado kaampek suku.
Kok satantang di tiang panjang, panjang di adat jo limbago panjang barih jo pusako, kok kaateh tarmbun jantan sampai ka pucuak ubun-ubun, kok kabawah takasiak bulan sampai kakarang nan bajojo,
di lipek batang langkueh
di ambiak pamasak samba lado
ingek-ingek tuan di ateh
nan di bawah kok manimpo.
Kok tibo di lantak tuo, lantak tuo di Lasuang Batu – Rukun jo Sarat kalau talupo, alamat nan di angan indak kan lalu. Adopun kaampek suku nan duduk di Kampuang Kapau. Bilo kito indak sauku – alamat rundiang manjadi kacau-balau, ikolah tapatan Rajo mandatang dari Ranah Pasia Talang, Sasampai maliek ulayat masiang-masiang.
Kok Pauah Duo Nan Batigo, Rajo dalam cancang latiahnyo nan mampunyai parahu nan kokoh nan di muek oleh kaampek suku, yaitu Cancang Latiah Di Pauah Duo, Nan di pakai di ampek suku, baitulah suri kito tanuni, kok bunjai samo kito ulasi”

SUSUNAN PENGHULU DI ALAM PAUAH DUO NAN BATIGO.
A. Tigo Lareh
a) Datuak Rajo Lelo (Muncak Suku )
b) Datuak Rajo Mantari (Camin Taruih)
c) Datuak Panggao
d) Datuak Bando Labiah
e) Datuak Bagindo Sutan (Kampai)

B. Sikumbang
a) Datuak Samad Dirajo (Muncak Suku )
b) Datuak Sampono
c) Datuak Jo Indo

C. Malayu Ampek Nyinyiak Limo jo Panai
1. Malayu
a) Datuak Rajo Nan Baso (Muncak Suku )
b) Datuak Sutan Khalifatullah
2. Koto Kaciek
a) Datuak Rajo Malin
b) Datuak Rajo Tawakkal
c) Datuak Rajo Satie
d) Datuak Tandewano
e) Datuak Angkat Suridirajo
3. Bariang
a) Datuak Tan Bagampo
4. Durian
a) Datuak Rajo Nan Kato
b) Datuak Rajo Idin
c) Datuak Rajo Nan Peta
5. Panai
a) Datuak Rajo Nando
b) Datuak Jano Katik
c) Datuak Rang Kayo Gadang
d) Datuak Rajo Parang
e) Datuak Indo Mangkuto
f) Datuak Alang Palaba (Panjago Bateh Alam Pauah Duo – di Air Batu)

D. Urang Bano ka Ampek Suku

Nan Partamo :
a) Datuak Rajo Aceh) (Malayu – Muncak Suku)
b) Datuak Rajo Biaro (Malayu)
c) Datuak Sutan (Malayu)
d) Datuak Rang Kayo Batuah (Koto Kaciek)
e) Datuak Rajo Laie (Koto Kaciek)
f) Datuak Tandewano (Koto Kaciek)
g) Datuak Mudo (Bariang)
h) Datuak Sati (Bariang)
i) Datuak Rajo Idin (Durian)

Nan Kaduo :
a) Datuak Bando Besar (Panai Tigo Ibu – Muncak Suku )
b) Datuak Jano Katik
c) Datuak Nan Kayo Besar

Nan Katigo :
a) Datuak Rajo Indo (Tigo Lareh – Muncak Suku )
b) Datuak Panggao
c) Datuak Rajo Mantari
d) Datuak Bando Sati
e) Datuak Patieh
f) Datuak Rajo Genggang
g) Datuak Rajo Indo Bumi (Sikumbang)
h) Datuak Mangguang (Sikumbang)

Nan Ka ampek
a) Datuak Saidano (Kampai – Muncak Suku )
b) Datuak Inyiak Saidano
c) Datuak Rajo Kampai

E. Nan Batujuah di Lasuang Batu
Datuak Cumano (Malayu – Muncak Suku )
a) Datuak Marajo (Malayu)
b) Datuak Rajo Ampasang (Malayu)
c) Datuak Rajo Satieh (Koto Kaciek)
d) Datuak Rajo Antoso (Durian)
e) Datuak Gunuang Ameh (Durian)
f) Datuak Rajo Parang (Bariang)
g) Datuak Rajo Ampek Suku (Panai)

F. Urang Malayu Kampuang Dalam
a) Datuak Rajo Mulia (Pucuak Pimpinan Urang Malayu Kampuang Dalam- Indak Rajo Ka Ganti Rajo di Alam Pauah Duo nan Batigo)
b) Datuak Bagindo Mudo (Melayu)

Sumber :

  1. Tutur, Carito dari Jamal Abdul Nasir, A.MA, Dt. Rajo Mantari, Camin Taruih di Alam Pauah Duo nan Batigo
  2. Tutur, Carito dari Tabrani. Dt. Rajo Mulia Tak Rajo ka Ganti Rajo di Alam Puah Duo nan Batigo
  3. Masyarakat umum di Alam Pauah Duo nan Batigo
  4. Buku Alamat IKASUPA Jakarta, Titian Rantau.

Biografi Singkat :
Ir. Gamal Yusaf, St. Batuah. Lahir di Pakan Salasa, 17 Pebruari 1963 yang lalu. Sekolah Dasar di SD 01 Pakan Salasa kemudian SMP Negeri 1 Muaralabuh dilanjutkan ke SMA Negeri 1 Muaralabuh. sehingga menamatkan Sarjana Teknik Sipil di ISTN Jakarta. Selama di Jakarta aktif berorganisasi, a.l : Pengurus KMM Istana Jaya (Korkom ISTN) 1988 dan KMM Jaya 1992. Aktif di Organisasi Kemasyarakatan IKASUPA Jakarta (Ikatan Keluarga Alam Surambi Sungai Pagu) sampai sekarang, BK3AM – JAKARTA (Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau), HASS (Himpunan Alumni SLTA Se Indonesia). Sekarang Aktif dalam pengelolaan SANGGAR TARI SYOFYANI – IKASUPA JAKARTA.

Foot Notes :
i BKSNT = Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
ii Brigjend Purn. (TNI) H. Armein Ahmad, Dt. Nan Bakupiah (Alm)
iii Zulkarnain, Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah (Alm)
iv Camin Taruih, berfungsi sebagai : Pai tampek batanyo, pulang tampek babarito, Nara sumber tentang Adat dan Budaya di Alam Pauah Duo.

TARATIK

 

Taratik

dek : Ir. Gamal Yusaf, Sutan Batuah

 

Rarak Kalikih dek Bindalu

Tumbuah sarumpun di tapi tabek

Kok habih raso jo malu

Bak kayu lungga pangabek

 

Anak urang Koto Ilalang

Nak lalu ka Pakan Baso

Malu jo Sopan jikok lah hilang

Abih lah raso jo Pareso

 

Jikok pai kaparelatan,(baralek)

Duduak tagak ado jangkonyo

Baso jo basi usahlah lupo,

Nan tuo dipamuliakan,

Nan ketek dikasihi,

Samo gadang dipabasokan

 

TARATIK dalam Pergaulan :

  • Jalan nan Ampek :

Jalan mandaki, Jalan Manurun, Jalan Mandata, Jalan Malereang

  • Kato nan Ampek :

Kato Pusako, Kato Mufakat,

Kato Dahulu, Kato Kudian kato bacari

  • Pancaran Budi :

Raso, Pareso, Malu jo Sopan

 

Taratik berasal dari katata tertib, teratur, sesuai urutan dari ketek kanan gadang, dari randah ka nan tinggi, meletakkan sesuatu pada tempatnya’the rihgt men on tright place‘ dan seterusnya.

 

Taratik adalah cerminan dari manusia yang berakhlak, berakal budi nan mulia. Menghormati orang tua, mengasihi yang kecil (lebih muda), menghargai sama besar. (nan tuo dimoliekan, nan ketek dikasiehi, samo gadang lawan baiyo, baiyo batido jo kakak, ba iyo iyo jo adiek). Dalam tutuntunan agama, Taratik sangatlah diutamakan, seperti dalam mendirikan Sholat lima kali sehari semalam haruslah sesuai urutan dari awal hingga akhir, tidak syah Sholat seseorang bila melakukan secara acak-acakan tidak sesuai dengan urutan, aturan dan tata tertib serta waktu-waktu yang sudah ditetapkan seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Lazim disebut sebagai salah satu rukun Shalat.

 

Tengganglah raso pakai pareso, Gunakan Etika, pakailah logika demikianlah ungkapan yang sudah terpatri dalam budaya manusia beradab di Minangkabau, tapi terasa ada sesuatu yang hilang ketika manusia tersebut lupa dengan Adat, tiada hidup yang lebih malang ketika dikatan orang ‘ndak tau jo ampek’, orang yang tidak beradat.

Dalam pergaulan sehari-hari masyarakat di Minangkabau khususnya, bila sudah dikatakan orang ‘ndak tau di nan ampek, sungguh malu yang tak terhingga bagi yang menerima julukan tersebut, adalah suatu upaya masyarakat untuk menghukum secara moral (Psycotheraphy) kepada anggotanya yang melanggar adat atau aturan yang berlaku dalam kehidupan, ‘salah cando’. Orang tersebut mempunyai strata paling bawah dalam masarakat itu sendiri. Diumpamakan,  lah samo jo nan bakaki ampek. Sehingga diharapkan mereka akan sadar dengan segala prilakunya dalam pergaulan masyarakat yang beradat, bermoral dan berakhlaqul karimah. Berdasarkan Adat Basandi Syara’-Syara’ Basandikan Kitabullah.(ABS-SBK).

 

Namun dalam era globalisasi sekarang sudah banyak yang kebablasan, sehingga segala norma, etika, adat dan Taratik itu semua ditabrak, sampai – sampai hukuman moral (psycotheraphy) yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau selama ini tidak diabaikan lagi oleh sebagian masyarakat itu sendiri.

 

Contoh-contoh Taratik yang dilanggar dalam masyarakat moderen saat ini adalah dalam pergaulan muda – mudi. Tidak merasa sungkan dan malu berpelukan, berjalan di keramaian seperti Mall dan Pasar Swalayan yang hampir hadir disetiap sudut kota, berpakaian yang seronok, membuka aurat alias setengah telanjang, mengikuti mode dan gaya hidup “selebritis, membuka ‘aib pribadi dan keluarga demi popularitas sesa’at. Dengan rasa bangga dan tanpa rasa malu mengumbarnya dalam konferensi pers agar masuk dalam ratting tertinggi dalam berita infotainment di setiap stasiun televisi.

Sehingga tidak mencerminkan sebagai manusia yang berbudaya, dan beragama, tambah lagi masuknya PEKAT (PEnyakit masyaraKAT), mulai dari pergaulan bebas, Narkoba, Judi, tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual terhadap kaum ibu dan anak perempuan semakin tak terbendung. Didukung pula dengan tayangan di Televisi, dari sinetron, film, berita Politik sampai Selebritis, berita kriminal, perampokan, pemerkosaan, maka lengkaplah bahan untuk merobah budaya, sementara peranan Agama dan Adat budaya terlupakan. Dekadensi moral semakin marak melanda segala lapisan masyarakat, mulai dari pejabat sampai masyarakat bawah, perselingkuhan menjadi mode, kawin siri (Nikah tanpa legalitas dari pemerintah / administrasi), menjadi liputan utama infotainment, bahkan sampai ke DPR disibukkan pula untuk meluncurkan produk hukum semacam Undang-undang tentang Nikah Siri.

Pembajakan hasil karya ilmiah, seni, tulisan, lagu, dan lain-lain demi keuntungan diri sendiri dan kelompok. Mengkui dan mengclaim karya seseorang/kelompok sebagai karya sendiri atau kelompok, disebut karya plagiat, sabotase, dan Si Kutar (Kurang Taratik) manembak ateh kudo, orang lain bersusah payah menciptakan, eh,… Si Kutar dengan enteng mengatakan itu semua adalah hasil jerih payahnya, karena dia mengaku yang dapat legalitas dari koloninya, dengan seribu alasan, yang penting nama Si Kutar inilah yang akan muncul kepermukaan, walaupun masyarakat menyaksikan dan bacamin patang pagi, siapa sebenarnya Si Kutar ini. Lebih ironisnya sampai diajukan ke pengadilan untuk pembenaran perbuatan mereka. Demikian parahnya kondisi moral Taratik, akhlak dan etika masyarakat dewasa ini.

Hilangnya rasa malu dalam generasai sekarang tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada mereka, banyak faktor yang membuat mereka berlaku demikian, terutama faktor keluarga dan orang tua yang kurang memperhatikan norma – norma yang berlaku dalam pergaulan mereka, faktor informasi global yang masuk tanpa filter kedalam rumah kita, kehilangan Panutan dan Tauladan bagi mereka seperti, tidak ada rasa takut kepada Guru di sekolah, bahkan ungkapan Guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari seakan sudah menjadi makanan sehari-hari dalam berita harian di media elktronik dan cetak sa’at ini. Yang  tak kalah pentingnya adalah Pendidikan Agama yang sudah sangat minim baik dalam keluarga maupun di sekolah formal, sehingga Akhlaq (Taratik) sudah tidak ada dalam jiwa generasi sekarang. Demikian yang digambarkan oleh budayawan kita Alm. A.A. Navis dengan novelnya yang berjudul “Robohnya Surau Kami”.

Guru melecehkan anak mjuridnya sendiri, memperkosa, dan bahkan membunuh, seperti yang dapat kita saksikan di berita-berita kriminal di TV, Koran dan Internet saat ini. Bagaimana mungkin moral anak bangsa ini menjadi baik kalau kwalitas guru yang sangat bobrok tidak Bataratik, bak kata pepatah Minang ‘ tungkek mamabaok rabah’ seyogyanya tongkat ini berfungsi sebagai penopang berdirinya, tapi kenyataannya terbalik.

Seiring dengan itu Perda Provinsi Sumatera Barat No. 9 tahun 2000 serta Perda Kabupten Solok No. 4 tahun 2001 tangagl 9 Februari 2001 untuk Baliek ka Nagari sangat mengena dan sangat tepat untuk mengembalikan jati diri masyarakat Minangkabau yang terkenal dengan keramah tamahannya dan taat kepada Agama yang mereka anut yaitu Islam, yang berakhlak mulia, budi pekerti, dan Bataratik. Baliek ka Nagaribukan hanya berarti membenahi struktur administrasi pemerintahan saja, lebih jauh adalah mengembalikan Minangkabau ke akarnya,  yaitu hidup beradat berdasarkan agama (ABS-SBK) ‘pinang pulang katampuaknyo, siriah pulang ka gagangnyo’, dalam aplikasi di masyarakat adalah baliek ka Nagari berarti baliek ka Surau, Surau tempat penempaan jiwa-raga budaya dan agama bagi putra-putra minang di zaman dahulu, yang menghasilkan SDM yang tahan terhadap gelombang budaya asing, menjadi leader pada bidang Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya dimana mereka berada.

Sebut saja mulai dari pejuang dan politikus, budayawan di nusantara, H. Agus Salim,     H. Rangkayo Rasuna Said, Buya Hamka, Bung Hatta, St, Syahrir, Moh. Yamin, Tan Malaka, Moh. Natsir, HB. Jassin, St. Takdir Ali Syahbana, A.A Navis, Taufik Isma’il dan lain-lain. pada dasarnya mereka adalah alumni Surau semasa remaja di kampung masing-masing. dalam bidang Ekonomi dan pengusaha yang berhasil di Jakarta pada tahun 60-an banyak yang berasal dari Ranah Minang. dan bahkan Politikus, Ulama, dan budayawan dari luar Minangkabau banyak berguru di Surau tersebut.

Sekarang bagaimana ?, bukan saja krisis Moral dan Ekonomi bahkan krisis SDM yang berkulitas seperti pendahulu kita melanda Minangkabau khususnya, Indonesia umumnya.

Bahkan kalau ada, merasa malu mengaku orang Minangkabau, entah alergi apa namanya sampai malu mengakui negeri asalnya. Kenapa ? menurut analisa sementara mereka malu karena sebelumnya mereka melakukan hal yang tabu di Adat dan Limbago Minangkabau, tidak bercorak seperti orang Minangkabau, keluar dari pakemnya. Maka mereka malu dan tidak mau Adat Limbago Minangkabau yang berbudaya tinggi tercemar karena polah tingkahnya tersebut, atau berkaitan dengan unsur politik yang sedang mereka lakoni, sehingga kalau mengaku sebagai orang yang beradat hati nuraninya tidak menerima, makanya selalu menghindar dan menutupi dengan topeng kepalsuan. Hal seperti ini adalah usaha untuk tidak mencemarkan nama baik keluarga di kampung halaman dan suku etnis mereka.

Sudah banyak bukti kita lihat yang pernah mengikuti tradisi ‘kasurau’ semasa remajanya di gembleng dengan didikkan ‘surau’ tersebut seperti pendidikan Agama, Adat Budaya, Berkehidupan Ekonomi, kemandirian, Olah raga Pencak Silat sampai ilmu kebatinanan yang bertujuan sebagai pagar diri, membuat mereka matang dan bijaksana baik dalam pola pikir dan tindakan. Bila mereka pergi merantau tidak merasa canggung dan ragu hidup jauh dari sanak family, karena bekal di ‘surau’ itulah menjadikan laki-laki minang ‘dahulu’ selalu berdiri di depan, sebagai motor penggerak sebuah kelompok masyarakat, sehingga orang-orang lain akan menerima mereka dengan senang hati karena Taratik budi pekerti yang mereka bawakan sangat santun. Dalam sebuah pantun dan ungkapan menyebutkan karatau madang dihulu, babuah babungo balun, karantau bujang dahulu, dikampuang paguno balun. Bila seorang bujang merantau dengan bekal  Taratik, Sopan, Santun, setelah mapan akan selalu mengingat dan kembali ke kampung halamannya yang selama merantau ditinggalkan, tercermin dalam ungkapan pepatah :

 

Sayang jo anak dilacuti,

Sayang jo kampuang tingga-tinggakan

 

Hujan ameh di nagari urang,

hujan batu di nagari kito, namun kampuang takana juo.

 

Satinggi-tinggi tabang bangau, balieknyo kakubangan juo,

sajauah-jauah marantau, pulangnyo kakampuang juo.

 

Kaluak paku kacang balimbiang, tampuruang lenggang-lenggankan

baok lalu ka saruaso, tanamlah sirieh jo ureknyo.

Anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan

tenggang nagari jan binaso, jago sarato jo adaiknyo.

 

*****2010

 

Klender, Juni 2007 update 24 Februari 2010

Pernah dimuat di Majalah TITIAN No.31/ Okt-Nov 2007

 

Sumber bacaan :

  • Kato Pusako, AB. Dt. Majo Indo
  • Nagari dalam Prespektif Sejarah, Drs. Efi Yandri, M.Si
  • Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, H. Idrus Hakimi, Dt. Rajo Pangulu

SYEKH MAULANA SOFI DENGAN MASJID KURANG ASO ANAM PULUAH di Alam Surambi Sungai Pagu.

 SYEKH MAULANA SOFI

DENGAN MASJID KURANG ASO ANAM PULUAH

di Alam Surambi Sungai Pagu.

Oleh : GAMAL YUSAF, St. Batuah

Pada masa lalu, di daerah Solok Selatan terdapat sebuah Kerajaan penting. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu namanya. Hingga saat ini masih banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang masih terpelihara dengan baik, bahkan salah satu dari peninggalan tersebut ada sebuah Mesjid Tua diperkirakan didirikan sekitar 400 tahun yang lalu (± 4 abad), masih berdiri dengan kokoh sampai saat ini di Pasir Talang Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat. Bahkan Dinas Purbakala telah memasukan kedalam Lindungan Cagar Budaya Indonesia, Dalam proses Renovasi / rekonstruksi mengganti material yang sudah tidak layak pakai oleh Dinas Kepurbakalaan,

Masjid tersebut terbuat dari kayu dan biasa disebut dengan Mesjid Kurang Aso Anam Puluah, Kurang Aso Anam Puluah adalah jumlah nenek moyang orang Alam Surambi Sungai Pagu yaitu 60 – 1 yang turun dari Kerajaan Pagaruyuang, dan sampai saat ini 60-1 atau 59 adalah jumlah Penghulu Pucuk Adat yang ada di Alam Surambi Sungai Pagu, mereka inilah bersama alim ulama mendirikan bangunan masjid ini sehingga Bangunan Masjid tersebut mengandung falsafah dan lambang dari Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Tiang penyangga Masjid ini jumlahnya 59 buah.

Syekh Maulan Sofi adalah seorang ulama / guru yang memiliki kesaktian, Konon ketika beliau baru dilahirkan sudah ada pertanda kesaktiannya yaitu saat beliau baru lahir dan ditaruh di lantai papan rumahnya saat itu pula petir menggelegar, lantai tersebut patah seakan tak kuat menahan berat tubuh bayi tersebut.

Sang bayi lahir dalam keadaan terbunggkus selaput tipis. Ketika Dukun yang membantu kelahiran bayi tersebut mencoba membuka selubung tersebut dengan pisau, ternyata pisau itu tak mempan membelah selubung. Hanya dengan sebilah sembilu akhirnya selubung tersebut dapat dibuka.

Lain lagi cerita tentang beliau berangkat ke Makkah memadamkan api saat terjadi kebakaran di tanah suci tersebut. Kejadiannya sangat cepat dan unik.

Waktu itu hari Jum’at, dan merupakan salah satu sunah Rasullullah untuk bercukur dan merapihkan rambut sebelum waktu Sholat Jum’at datang, seperti merapikan rambut, jenggot, kuku, kumis dan membersihkan diri serta berwangi-wangi seperti dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Syekh datang ke tukang cukur langganan beliau di sekitar Masjid kecil, dan bertepatan pula didekat Mesjid itu ada pasar yang ada hanya di setiap hari Jum’at maka disebut pula dengan Balai Jum’at di Pasir Talang. Beliau duduk pada bangku kayu yang disediakan. Tukang cukur mempersiapkan peralatan cukur untuk memulai pekerjaannya.

Dengan hati-hati tukang cukur memulai pekerjaanya merapihkan rambut seorang syekh yang terkenal di Alam Surambi Sungai Pagu, Syekh Maulana duduk dengan tenang. Matanya terlelap. Selagi tukang cukur asyik bekerja, tiba-tiba saja Syekh Maulana kaget dan terbangun dari duduknya, tukang cukurpun tak kalah terkejutnya, entah apa yang terjadi. Apa dia melakukan kesalahan sehingga Sekh Maulana berdiri dari duduknya dengan tiba-tiba.

“Tunggu sebentar,” kata Syekh Maulana, saya ada keperluan penting !, Nanti saja kita lanjutkan mencukurnya.

Tukang cukur bengong. Padahal baru separoh rambut syekh terpotong dan sebelah lagi masih terurai.

Ulama itu dengan cepat berdiri dari bangku. Beliau berjalan dengan tergesa-gesa. Tukang cukur hanya termangu dan tak mampu berbuat apa-apa. Begitu tergesanya hingga beliau lupa memakai keifiyah (sorban) atau kupiah kata orang di kampung itu. Terlihat dengan jelas bahwa baru rambut sebelah kanan yang sudah dipotong sedangkan yang sebelah kiri masih panjang seperti sediakala. Dengan cukuran rambut sebelah itulah Syekh Maulana meninggalkan tukang cukur. Tak lama kemudian Syekh Maulana menghilang dari penglihatan tukang cukur yang terpana melihat kejadian yang baru dia alami bersama Guru Besar Syekh Maulana Sofi.

Dua jam kemudian, barulah Syekh Maulana kembali dan duduk pada bangku yang sama untuk melanjut cukurannya yang terbengkalai. Wajah beliau kini terlihat tenang dan bersih. Tukang cukur sulit untuk memendam rasa heran dalam hatinya sambil memulai kembali pekerjaannya mencukur rambut Syekh Maulana yang bagian kiri.

“Kelihatannya tadi Angku Syekh tergesa-gesa sekali,” kata tukang cukur memulai pembicaraannya untuk mencari tau apa sebenarnya yang terjadi pada diri beliau. Ada keperluan apa Angku?, Kenapa tiba-tiba saja Angku pergi, sedangkan belum selesai dicukur?, pertanyaan tukang cukur menghujani Syekh Maulana untuk mendapat jawaban yang pasti. Tukang cukur sangat yakin Syekh Maulana tidak akan bercerita bohong tentang apa yang terjadi pada diri beliau.

“Selagi terlelap tadi, saya melihat ada kebakaran dekat Masjidil Haram di Makkah. Itu sebabnya saya pergi dengan segera.” Jawab Syekh Maulana. Dengan tenang Syekh Maulana memulai menceritakan pengalaman beliau yang singkat dan diluar kemampuan manusia biasa untuk melaksanakan yang baru beliau lakukan tersebut.

“Jadi …. Sebentar tadi Angku pergi ke Mekkah ?” tanya tukang cukur makin heran.

“Ya.  Berusaha membantu memadamkan api tersebut. Agar jangan sampai Masjidil Haram ikut terbakar.”

Mendengar jawaban tersebut, tukang cukur hanya terdiam. Bagaimana mungkin dalam waktu dua jam beliau pulang pergi ke Mekkah untuk membantu memadamkan api yang sedang menyala mengancam terbakarnya Masjidil Haram. Padahal jarak antara Alam Surambi Sungai Pagu dengan Masjidil Haram ribuan kilometer. Apa mungkin Syekh Maulana menempuh jarak itu dalam waktu singkat ?. “Ah, Sekh ini hanya bercanda” kata tukang cukur dalam hatinya.

Akhirnya tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya. Setelah membayar upah cukur rambut, Syekh Maulana pulang untuk mempersiapkan sesuatunya berangkat ke Mesjid menunaikan Sholat Jum’at.

Sepeninggal Syekh Maulana, tukang cukur menceritakan hal  yang dia alami tadi kepada seorang pelanggan yang bercukur setelah Syekh Maulana. Pelanggan itu hanya tertawa mendengar hal itu.

“Mana mungkin orang bolak – balik ke Mekkah dalam waktu dua jam, Itu pastilah cerita dan angan-angan orang tua itu saja. Pak Usu.” Komentar pelanggan tersebut.

“Tapi . Sutan …. Syekh Maulana bercerita sungguh – sungguh. Bahkan beliau menceritakan bagaimana situasi kebakaran di Kota Mekkah pada saat beliau sampai disana.” Bela tukang cukur. “Beliau tak mungkin berbohong” lanjutnya menegaskan.

“Beliau memang seorang ulama, tetapi kalau ceritanya seperti itu jelas itu cerita bohong, tidak masuk akal !” Bantah pelanggannya meyakinkan tukang cukur. “Ah,… Sudahlah cukur dulu rambut ku ini sudah hampir datang waktunya Sholat Jum’at !” seru pelangan kepada tukang cukur. “Tak usah Pak Usu pikirkan hal yang tidak masuk akal itu.” Sembari membetulkan posisi duduknya di bangku kayu bekas Syekh Maulana tadi pagi.

Tukang Cukur memilih diam, tak mau berdebat dengan pelanggannya.

“Ha…, begini saja,” Kata Sutan tadi memulai selidiknya. “Pada musim haji ini kan ada orang Nagari kita yang ikut Menunaikan Ibadah Haji ke Mekkah, dua bulan lagi rombongan tersebut akan sampai di sini. Kita Tanya saja mereka apakah benar ada kebakaran di dekat Masjidil Haram.”

“A… iya, itu usul yang bagus Sutan.” Balas tukang cukur. Sambil bekerja mencukur rambut pelanggan yang dia panggil Sutan tadi.

“Dari jawaban mereka kita akan tahu, apakah Syekh Maulana bohong atau tidak.” Lanjut Sutan dengan yakin.

Pada saat itu memang bertepatan dengan musim Haji, bulan Dzulhijjah. Ummat Islam menunaikan Ibadah Haji bagi yang mempunyai kemampuan baik jasmani, rohani dan finansial yang berkecukupan. Pada waktu itu kota Mekkah lagi sangat ramai dikunjungi jamaah dari segala penjuru dunia untuk memenuhi panggilan Nabi Allah Ibrahim.

Dengan cepat cerita Syekh Maulana pergi ke Mekkah memadamkan kebakaran di dekat Masjidil Haram menyebar dari mulut ke mulut dalam masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu, berbagai tanggapan masyarakat tantang cerita itu. Ada yang percaya dan yakin Syekh Maulana tidak berbohong karena beliau seorang Ulama yang suci yang mempunyai karomah. Dengan kehendak Allah semua dapat saja terjadi. Ada pula yang tidak yakin dan tidak percaya. Dengan bercerita seperti itu maka masyarakat akan mengagumi Syekh Maulana atas kehebatannya. Demikian pro-kontra yang terjadi dalam masyarakat. Mereka sama – sama menunggu rombongan Haji pulang dari Mekkah dan menanyakan hal tersebut untuk memastikan cerita Syekh Maulana tersebut, apakah Syekh Maulana bohong atau tidak.

Beberapa hari setelah rombongan tersebut sampai, masyarakat bergerombolan datang ke rumah salah seorang Datuk yang juga ikut bersama rombongan tersebut bergelar Datuak Kayo. Setelah bercerita dan basa-basi sejenak. Salah seorang dari masyarakat memulai menanyakan pengalaman-pengalaman beliau dalam perjalanan ke Mekkah yang baru lalu.  Dan ada pula yang menayakan kesehatan dan keamanan dalam perjalanan. Tiba-tiba berbicara seorang dari mereka dengan lantang bertanya kepada Angku Dt. Kayo.Dua bulan kemudian rombongan haji yang ditunggu-tunggu sampai di kampung. Mereka menyambut dengan meriah. Masyarakat bersyukur atas keselamatan keluarga mereka dalam perjalanan pergi dan pulang dari Mekkah untuk menunaikan Ibadah Haji sebagai Rukun Islam yang ke lima.

“Angku Datuak, apa pengalaman yang paling berkesan dalam perjalanan Angku saat menunaikan Ibadah Haji ini ? kata si Sutan memancing untuk memulai pertanyaannya.

“Pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika saya menyaksikan kebakaran di dekat Masjidil Haram.” Kata Angku Dt. Kayo. “Kebakaran sangat hebat, sehingga kain penutup Ka’bah yang disebut Kiswah itu ikut pula terbakar. Orang banyak menjadi panik dan berlarian kesana – sini tak tentu arah merusaha mencari air untuk menanggulangi kebakaran tersebut. Untunglah dalam keadaan seperti itu datang seorang tua bersorban.  Orang tua itu datang sambil membuka kain sorban dikepalanya lalu mengibas-ngibaskan kain sorban tersebut kea rah nyala api tersebut. Tak lama kemudian api tersebut padam. Dengan menyungkupkan sorbannya itu ke Ka’bah, dengan tertutupnya Ka’bah dengan sorban tersebut maka api tiba-tiba padam.”

“Apakah angku memperhatikan orang yang memadamkan api tersebut?” Tanya si Sutan, tambah penasaran.

“Ya. Saya merasa pernah mengenal orang tua itu, beliau datang dengan pakaian biasa, tidak berpakaian Ihram layaknya orang sedang berhaji. Ketiaka dia membuka sorban di kepalanya, saya melihat rambut di kepalanya sebelah kanan pendek, seperti baru saja dicukur, sedanngkan yang sebelah lagi masih utuh.” Jawab Angku Dt. Kayo.

Mendengar cerita Angku Datuak Kayo tadi, barulah si Sutan dan kawan-kawan tadi percaya dan yakin apa yang dialami oleh Angku Syekh Maulana Sofi. “Beliau memang orang yang sakti,” komentar mereka sambil pulang ke rumah masing-masing dengan membawa sedikit buah kurma dan segelas air zam-zam pertanda orang baru pulang dari Naik Haji.

Padahal Angku Dt. Kayo baru saja sampai di Kampungnya dan tidak tahu menahu tentang gosip yang terjadi pada Syekh Maulana akhir-akhir ini.

Semenjak itu Masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu semakin meyakini ajaran Islam yang disyi’arkan oleh Angku Syekh Maulana Sofi. Mayarakat semakin banyak mengikuti daa’wah yang diajarkan oleh ulama terpandang itu. Pengikut Angku Syekh Maulana Sofi dengan cepat menyebar kesegala pelosok Nagari bahkan sampai ke Rantau Banda nan Sapuluah di daerah Pesisir pantai barat Sumatera yang kini disebut Kabupaten Pesisir Selatan. Seiring dengan makin berkembangnya pengikut Angku Syekh Maulana Sofi, maka mereka merasakan membutuhkan tempat berkumpul yang lebih besar.

Dalam suatu pertemuan dengan Ninik Mamak pemangku Adat di Alam Surambi Sungai Pagu, beliau mengusulkan untuk mendirikan sebuah Masjid.

“Jama’ah kita sudah membutuhkan yang namanya Masjid untuk lebih khusuk beribadah kepada Allah SWT. Disamping itu juga digunakan untuk musyawarah dan belajar bagi anak kemanakan kita.” Kata Angku Syekh Maulana Sofi kepada pemuka masyarkat yang hadir pada waktu itu.

Dengan serempak masyarakat pada waktu itu menyetujui usulan beliau, masyarakat juga sepakat bahwa pendirian Masjid tersebut sebagai penghormatan kepada nenek moyang orang ALam Surambi Sungai Pagu, maka nama masjid itu disepakati dengan Nama Kurang Aso Anam Puluah jaitu jumlah nenek moyang mereka yang turun dari Pagaruyung sejumlah 60 orang dan meninggal satu orang dalam perjalanan menuju Lakuak Banda Lakun, sebelum bernama Alam Surambi Sungai Pagu. Sampai saat ini jumlah penghulu pucuk pemangku adat di Alam Surambi Sungai Pagu berjumlah 59 orang.

Selesai musyawarah, disusunlah rencana persiapan untuk pengerjaan masjid tersebut. Secara bergotong royong masyarakat mengumpulkan bahan bahan yang diperlukan untuk bangunan Masjid tersebut.Dengan mengeluarkan Titahnya, Daulat Yang  Dipertuan Tuanku Rajo Disambah, Raja Alam Surambi Sungai Pagu pada saat itu, menitahkan anak kemenakannya untuk bergotong royong mendirikan Masjid yang megah di Kampuang Dalam, sekitar areal Isatana Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, yang dikelilingi oleh rumah-rumah gadang para pertugas Istana. Bangunan Masjid ini berdekatan dengan Balai-balai Adat di Kampuang Dalam (Pasir Talang).

Pertama-tama mereka mencari kayu yang dibutuhkan untuk Tonggak-tonggak masjid, yang dibutuhkan 59 batang tonggak yang menggambarkan jumlah nenek moyang mereka. Kemudian kayu-kayu lainnya seperti Jariau, kasau, Papan untuk dinding dan lantai, jendela, pintu dan lain-lainnya. Demikianlah dengan cara bergotong royong mulailah disusun sandi tempat berdirinya tonggak-tonggak tersebut, pertama didirikan tonggak-tonggak keliling di bagian luar, kemudian tonggak-tonggak keliling bagian dalam, didirikan secara bersama-sama, bergotong royong. Namun untuk tonggak yang di tengah tidak ada yang sanggup utuk mendirikannya, yang panjangnya mencapai ± 13 meter. Konon sebagian menceritakan tonggak yang satu ini agak istimewa keberadaanya. Yang mereka sebut dengan tonggak macu ini bersal dari tongkat Syekh Maulana Sofi. Beliau melihatkan kesaktiannya lagi. Setelah semua material kayu untuk pembangunan sudah berada dilokasi,. Tonggak Macu tersebut belum ada, sedangkan kayu tidak ada yang sepanjang itu. Maka dengan mengusap-usap tongkat beliau, makin lama tongkat tersebut makin besar dan panjang hingga tiang tersebut dipakai untuk Tonggak Macu mesjid tersebut. Tidak ada sambungan dari sandi batu sampai ke ujung.

Khusus dalam mendirikan tonggak macu ini  Syekh Maulana Sofi bekerja sendirian, beliau melakukan semacam Sholat Sunat dan membaca do’a kepada Allah SWT, dan sambil mendekati tonggak macu tersebut beliau menggerakkan jari – jemarinya,. Dengan perlahan tonggak macu tersebut berdiri mengikuti gerak tangan sang ulama tersebut. Setelah itu baru dilanjutkan pekerjaan memasang kayu-kayu yang lainnya sehingga berdirilah dengan megahnya Masjid Kurang Aso Anam Puluah di tengah Kerajaan ALam Surambi Sungai Pagu.

Pada masjid ini tergambar dengan jelas kerja sama anatara Kaum Ulama dengan Kaum Adat di Alam Surambi Sungai Pagu, karena Para Ulama itu sendiri adalah Kaum Adat itu juga. Lain halnya di daerah Minangkabau lainnya. Masjid didirikan oleh Kaum Agama, sedangkan Kaum Adat tidak ikut serta didalamnya. Maka dengan mudah Penjajah Belanda untuk mengadu domba Kaum Adat dengan Kaum Agama, dan akhirnya keluarlah kesepakatan di Bukit Marapalam yang dikenal dengan falsafah Adat Minangkabau yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Dari ornament-ornamen Masjid tersebut terkandung falsafah-falsafah yang menggambarkan kesatuan dan persatuan serta musyawarah dan mufakat hingga tingkat-tingkat keimanan dan martabat kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu.

Pada suatu kali Tonggak macu ini bergetar dengan hebat, sehingga berhamburan orang yang sedang beribadah didalamnya keluar karena ketakutan, disangka terjadi gempa. Sedangkan dinding dan tiang yang lain tidak terjadi apa-apa. Setelah hal itu terjadi beberapa kali, akhirnya orang tahu bahwa tonggak macu akan bergetar hebat bila salah seorang dari jamaahnya berlaku tidak sopan, berkata-kata jorok atau bercanda dengan mendekatkan empu kaki ke tonggak macu tersebut. Sebagaimana di tempat ibadah lainnya semua orang haruslah berlaku dengan sopan santun, apalagi di Rumah Allah yang disebut dengan Masjid, Musholla, Langgar, Surau dan lain-lain.

Bagi masyarakat sekitar, Tonggak Macu tersebut dikeramatkan pula, bila seseorang memeluk tonggak macu tersebut dengan merentangkan tangan mengelilingi tonggak tersebut, ujung – ujung tangan dapat menyentuh ujung tangan yang lain, itu dipertandakan akan tercapai apa yang di cita-citakan.

Demikian uniknya pembangunan Masjid Kurang Aso Anam Puluah dan Syekh Maulana Sofi sebagai Ulama terkenal tersebut. Sampai saat ini masih kokoh berdiri di tempatnya, dan kita dapat berziarah ke Makam Syekh Maulana Sofi yang berada tepat di samping Mighrab Masjid tersebut.

Biografi singkat : Gamal Yusaf, St. Batuah lahir di Pakan Salasa, 17 Pebruari 1963 yang lalu. Sekolah Dasar di SD 01 Pakan Salasa kemudian SMP Negeri 1 Muaralabuh sampai SMA Negeri 1 Muaralabuh. sehingga menematkan S1 di ISTN Jakarta. Selama di Jakarta aktif berorganisasi. Jadi Pengurus KMM Istana Jaya (Korkom ISTN) dan KMM Jaya. Aktif di Organisasi Kemasyarakatan IKASUPA Jakarta (Ikatan Keluarga Alam SUrambi Sungai Pagu) sampai sekarang, BK3AM (badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau), Mengelola Sanggar Tari Syofyani -IKASUPA Jakarta.