FALSAFAH YANG TERKANDUNG pada MASJID KURANG ASO ANAM PULUAH


FALSAFAH YANG TERKANDUNG

pada MASJID KURANG ASO ANAM PULUAH

di Alam Surambi Sungai Pagu

 Oleh : Ir. Hasmurdi Hasan

 Jika ingin mengetahui sejarah perkembangan Islam di Sungai Pagu, salah satunya adalah dengan melihat bangunan Masjid Kurang Aso Anam Puluah. Dari bangunan Masjid tersebut kita dapat mengetahui budaya masyarakatnya, dari bentuk Arsitekturnya kita dapat mengetahui kurun waktu pembuatannya dan dari proses pembangunannya kita dapat mengetahui sejarah perkembangan Islam di Sungai Pagu.

Dalam kancah kebudayaan di jagat raya ini, budaya Minangkabau kebetulan tergolong ke dalam kelompok budaya majemuk yang lebih banyak menerima dari pada memberi. Berbeda dengan kelompok budaya tunggal, seperti yang dianut di Cina, India dan Arab, yang sebaliknya, yakni lebih banyak memberi dari pada menerima, atau sekurang-kurangnya memberi dan menerima. Perilaku budaya majemuk ini telah kita warisi dari nenek moyang kita sejak dahulu, tak terkecuali penduduk Alam Surambi Sungai Pagu. Hal ini dapat kita buktikan melalui bangunan Masjid Kurang Aso 60 yang memiliki model campuran Arsitektur Hindu-Jawa ( atap Joglo ), Klenteng Cina ( lengkung jurai atap ) dan dipadu dengan Arsitektur tradisional Minangkabau ( atap Miqrob dan susunan tonggak ).

Masjid Kurang Aso 60 adalah masjid tertua di Alam Surambi Sungai Pagu, dibangun secara gotong royong oleh masyarakat adat. Menurut tutur orang-orang tua , tonggak Machu masjid ini berasal dari sebatang pohon Juar yang ditebang di puncak bukit seberang Batang Suliti dan  ditarik ke lokasi secara gotong royong berikut dahan dan daunnya. Masjid yang terletak di Pasir Talang ini letaknya berdekatan dengan bangunan Balai Adat. Dalam adat Minangkabau syarat-syarat syahnya sebuah Nagari harus memiliki Balai Adat, Masjid, Labuah / jalan, Tapian / tempat MCK.

Masjid yang terdapat di Pasir Talang ini diberi nama Masjid Kurang Aso Anam Puluah, sesuai dengan jumlah bilangan tonggak / tiangnya,  merupakan perwujudan dari jumlah Penghulu Induk / Nyinyiak urang Sungai Pagu. Mereka inilah yang berperan aktip secara gotong royong membangun masjid ini.

Masjid Kurang Aso 60 adalah model masjid tradisional Minangkabau dengan corak Arsitektur Hindu-Jawa Abad ke 15 M, belum ada data pasti tentang tahun pembuatannya. Tapi  berdasarkan informasi dari Ibu Nuraini umur 76 tahun, suku Jambak-Koto Anyir, masjid ini telah ada sebelum tahun 1733 M, karena rumah gadang beliau ( kaum Inyiak Talanai ) dibuat pada tahun 1733 M, sedangkan masjid tersebut pada waktu itu telah ada menurut tutur Nenek beliau. Begitu juga kalau kita lihat keberadaan makam Syeh Maulana Sofi, seorang ulama besar  di Sungai Pagu yang hidup antara tahun 1730 s.d tahun 1818 M, posisi makam beliau terletak di Miqrob Masjid, berarti Masjid ini telah ada sebelum keberadaan beliau.

Bangunan masjid konstruksi kayu dengan ukuran panjang 17m, lebar 17m dan tinggi 17m, atap berbentuk limas bersusun tiga, mirip dengan atap bangunan Klenteng Cina, bahan atap pada awalnya terbuat dari ijuk dan telah beberapa kali diganti dengan seng. Tonggak / tiang kayu berjumlah 59 buah, pada bagian tengah terdapat tonggak paling besar ukurannya disebut tonggak Machu.

Masjid Kurang Aso 60 disamping sebagai tempat ibadah juga dipergunakan sebagai tempat upacara adat, seperti upacara makan-makan Turun Ke Sawah-Mambantai Kabau Nan Gadang. Masjid ini adalah perwujudan  Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah. Bangunan masjid ini sarat dengan makna, pada setiap bagian bangunan tersirat lambang-lambang yang mengandung arti dan masih dapat ditafsirkan sampai saat ini, seperti:

  1. Ukuran masjid 17m x 17m adalah melambangkan jumlah rakaat sholat wajib dalam sehari-semalam.
  2. Lantai masjid terdiri dari 3 tingkat melambangkan tingkatan ajaran Islam, yaitu syari’at, hakikat dan ma’rifat. Dari lantai dasar naik ke lantai satu disediakan tangga kayu yang dapat digunakan oleh semua orang, jumlah anak tangganya sebanyak 6 buah, melambangkan rukun iman. Sedangkan untuk naik dari lantai satu ke lantai dua tidak disediakan tangga, yang ada hanya berupa kayu yang ditekuk pada tonggak Machu, ini melambangkan usaha, bahwa untuk sampai ke tingkat ma’rifat seseorang harus tekun dan berusaha serius untuk mencapainya. Jumlah tekukan kayu di tonggak Machu berjumlah 5 buah, melambangkan rukun Islam.
  3. Atap berbentuk limas bersusun tiga, melambangkan susunan masyarakat adat di Alam Surambi Sungai Pagu yang terdiri dari Suku, Paruik dan Anak Paruik, sedangkan atap Miqrob berbentuk puncak rumah gadang melambangkan adat Minangkabau.
  4. Pintu masjid berjumlah 3 buah, pintu utama terdapat di depan menghadap ke halaman, dua buah pintu lagi terdapat disisi Utara dan Selatan. Pintu utama adalah tempat masuk tamu dan rajo, sedangkan pintu sebelah Utara tempat masuk suku Melayu dan Panai, pintu sebelah Selatan tempat masuk suku Kampai dan Tigo Lareh Bakapanjangan. Aturan ini hanya berlaku apabila berlangsung upacara adat. Pintu utama letaknya tidak simetris tapi agak berat ke Utara, melambangkan sejarah keberadaan suku Melayu sebagai pendahulu suku. Pintu utama terdiri dari dua gerbang, melambangkan Dua Balahan Gadang suku yang ada di Sungai Pagu.
  5. Tingkok / jendela, pada lantai dasar di dinding bagian depan terdapat 5 buah tingkok, 2 tingkok disisi Utara pintu utama melambangkan rakaat sholat Subuh, sedangkan 3 tingkok disisi Selatan pintu utama melambangkan rakaat sholat Maqrib. Subuh dipagi hari, Maqrib di sore hari digambarkan pada arah dari Utara ke Selatan, jugamelambangkan sejarah keberadaan suku Melayu sebagai pendahulu suku yang ada. Begitu juga tingkok yang terdapat di kedua sisi dinding Utara dan Selatan masing-masing berjumlah 5 buah, juga melambangkan rotasi  kehidupan manusia, waktu Subuh dan Maqrib berakhir  ke arah Miqrob. Pada lantai 2 di dinding bagian depan terdapat 4 tingkok, begitu juga di  dinding sisi Utara dan sisi Selatan, ini melambangkan 4 rakaat Sholat wajib seperti, Juhur, Ashar dan Isha. Pada lantai tiga terdapat dua tingkok melambangkan rakaat Sholat Sunnah. Sedangkan satu tingkok yang terdapat di tingkat Qubah yang dipergunakan tempat Azan, melambangkan Ke Esaan Allah.
  6. Qubah, bagian Qubah yang terdapat paling atas, terletak di atas tiga undakan atap limas melambangkan Rajo Nan Barampek Sedaulat. Qubah ini diletakkan di atas ujung tonggak Machu, melambangkan pucuak bulek urek tunggang, bahwa Rajo Nan Barampek adalah berfungsi sebagai pucuk/ pimpinan adat pada setiap sukunya. Di ke empat sudut atap Qubah terdapat sondak langik / tiang bubungan sebanyak 4 buah, 2 buah berbentuk bulat dan 2 buah berbentuk runcing, melambangkan 2 Balahan Gadang Suku yang menggunakan paham kelarasan Koto-Piliang ( digambarkan runcing ) dan Bodi-Caniago ( digambarkan bulat ).
  7. Ruang, secara garis besar ruangannya dibagi atas 6 bagian memanjang ke arah Miqrob yang dibatasi oleh tonggak, 2 bagian ruang sisi Utara adalah tempat duduk suku Melayu dan Panai, 2 bagian ruang sisi Selatan tempat duduk suku Kampai dan Tigo Lapeh Bakapanjangan. Sedangkan 2 ruang yang ada di bagian tengah diperuntukan untuk duduk tamu. Aturan ini berlaku apabila berlangsung upacara adat. 

Demikian sekelumit pendekatan sejarah dan makna yang tersirat pada bangunan masjid Kurang Aso 60, semoga melalui tulisan ini kita bisa lebih mengenal peninggalan sejarah yang mempunyai nilai sangat tinggi ini, kita pantas berbangga karena Nenek Moyang kita ratusan tahun yang lalu telah mampu menghasilkan  karya Arsitektur melalui bangunan Masjid Kurang Aso 60 yang memiliki filosofi yang tinggi. HH.1105

Biografi SINGKAT :

Ir. Hasmurdi Hasan, Lahir di Jambi, 26 Februari 1956. Sarjana Teknik Lingkungan ITB Bandung, Bkerja di Aetra – PAM JAYA. Sekretaris Umum IKASUPA Jakarta dan telah meneulis sebuah buku Ragam Rumah Adat Minangkabau, Falsafah, Pembangunan dan Kegunaannya.2004. Aktif menulis tentang Budaya dan Adat Minangkabau khususnya ALam Surambi Sungai Pagu di berbagai media. Pengurus IKASUPA Jakarta dsk. sebagai  Sekretaris Umum.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s